0
News
    Home Kesehatan Mie Nasi Pilihan

    Jadi Kebiasaan, Ahli Gizi Ungkap Efek Samping Makan Mi Campur Nasi Halaman all - Kompas

    3 min read

     

    Jadi Kebiasaan, Ahli Gizi Ungkap Efek Samping Makan Mi Campur Nasi Halaman all - Kompas.com

    Ilustrasi mi instan. Efek samping makan mi campur nasi.

    KOMPAS.com - Mengonsumsi mi campur nasi tampaknya menjadi kebiasaan bagi sebagian orang Indonesia.

    Bahkan, meski telah makan mi, sebagian masyarakat belum menganggapnya makan besar jika tak disertai dengan nasi.

    Kebiasaan ini turut dituangkan dalam unggahan X (dulu Twitter) @convo***, Rabu (18/1/2024) siang.

    "I eat my noodles with rice, you can also add potatoes to be extra Indonesian (Aku makan mi dengan nasi, bisa juga ditambah kentang agar lebih khas Indonesia)," tulis dalam unggahan.

    Sayangnya, makan nasi dicampur mi juga kerap mendapat reputasi buruk karena sama-sama sumber karbohidrat.

    Lantas, apa efek samping makan mi campur nasi?

    Efek samping makan mi dicampur nasi

    Guru Besar di bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB University Ali Khomsan mengatakan, mengonsumsi mi bersama nasi dapat menimbulkan rasa kenyang berlebihan.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    "Efek sampingnya kekenyangan karena keduanya sumber karbohidrat untuk energi tubuh," ujarnya, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/1/2024).

    Ali menambahkan, membiasakan diri makan mi plus nasi juga dapat menimbulkan risiko kegemukan karena asupan didominasi karbohidrat.

    Belum lagi, risiko defisiensi unsur gizi mikro, seperti zat besi, seng, vitamin A, dan vitamin C, dapat menghambat pertumbuhan anak.

    Kebiasaan mengonsumsi double carbo seperti ini pun dapat berimbas pada penyakit kronis.

    "Bila muncul kegemukan karena dampak konsumsi karbo berlebihan, ada ancaman penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes," ungkap Ali.

    Tidak sesuai gizi seimbang

    Lihat Foto

    Senada, dokter gizi komunitas Tan Shot Yen menjelaskan, makan mi campur nasi tidak sesuai dengan konsep "Isi Piringku" yang digagas Kementerian Kesehatan.

    "Tidak sesuai gizi seimbang, apalagi konsep Isi Piringku," kata Tan, ketika dikonfirmasi Kompas.com, Kamis.

    Menurutnya, konsep Isi Piringku menggambarkan porsi sekali makan yang terdiri dari 50 persen buah dan sayuran serta 50 persen, sisanya makanan pokok dan lauk-pauk.

    Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Isi Piringku mengharuskan suatu makanan memenuhi:

    • 1/6 piring makan berupa buah berbagai jenis dan warna
    • 1/3 piring makan berupa berbagai jenis sayuran
    • 1/6 piring merupakan lauk-pauk protein, baik hewani maupun nabati
    • 1/3 piring berupa makanan pokok yang terdiri dari karbohidrat kompleks seperti biji-bijian dan beras, sebaiknya bukan karbohidrat simpleks, termasuk tepung dan gula

    Menurut Tan, mi terbuat dari tepung atau karbohidrat rafinasi yang bukan merupakan bahan pangan utuh.

    Berbeda dengan karbohidrat kompleks, makanan jenis ini lebih mudah dicerna tubuh menjadi gula, sehingga kadar glukosa darah lebih cepat naik.

    Saat gula darah naik, tubuh akan segera bereaksi dengan "memerintahkan" pankreas untuk melepaskan insulin, yang membuat kadarnya cepat turun.

    Kondisi tersebut, lanjut Tan, dapat menyebabkan kegemukan karena lonjakan kadar gula berlebihan.

    Komentar
    Additional JS