Sejarah Gultik, Kuliner yang Hits di Jakarta, Ternyata Aslinya Khas Sukoharjo: Dikenalkan Perantau - Tribunsolo
Sejarah Gultik, Kuliner yang Hits di Jakarta, Ternyata Aslinya Khas Sukoharjo: Dikenalkan Perantau - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
KOMPAS.COM/TRI WAHYUNI
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Gulai Tikungan atau yang lebih dikenal dengan singkatan Gultik adalah salah satu ikon kuliner kaki lima yang sudah melegenda di Jakarta
Hidangan sederhana namun kaya rasa ini telah menjadi favorit banyak orang sejak akhir 1980-an dan terus bertahan di tengah geliat modernisasi ibu kota.
Asal-Usul Nama dan Lokasi
Nama Gultik sendiri berasal dari lokasi penjualannya yang berada di tikungan jalan, tepatnya di perempatan Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Penamaan ini sekaligus menggambarkan keunikan tempat berjualan para pedagang yang mayoritas berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah.
Jarak Sukoharjo ke Jakarta sendiri 580 kilometer.
Awalnya, para pedagang Gultik berjualan di kawasan Bulungan sebelum akhirnya pindah ke Mahakam sekitar awal 1990-an.

Tradisi berjualan di tikungan ini menjadi ciri khas tersendiri, menciptakan suasana kaki lima yang ramai dan hidup setiap malam.
Sejarah dan Perkembangan
Menurut catatan, Gultik mulai dikenal luas sejak akhir tahun 1980-an.
Pada masa itu, hidangan ini lebih banyak diburu oleh mahasiswa dan pekerja yang mencari makanan lezat dengan harga terjangkau.
Gultik terkenal dengan kuah gulainya yang gurih dan potongan daging sapi empuk, disajikan bersama nasi hangat, kerupuk, dan taburan bawang goreng.
Ciri khas kuah Gultik adalah rasa rempah yang kaya namun dengan tekstur yang lebih encer dibanding gulai Solo, yang biasanya menggunakan jeroan kambing dengan kuah kental.
Perbedaan ini memberikan cita rasa unik yang membuat banyak orang ketagihan dan seringkali memesan lebih dari satu porsi.
Seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang Gultik semakin bertambah, menjadikan tikungan Blok M sebagai pusat kuliner malam yang terkenal di Jakarta.
Meski sederhana, Gultik berhasil menarik berbagai kalangan, mulai dari anak muda, pekerja kantoran, hingga wisatawan yang penasaran mencoba kuliner jalanan khas ibu kota.
Tren Modern dan Popularitas Gultik
Baru-baru ini, Gultik kembali menjadi sorotan di media sosial, khususnya platform TikTok, lewat tren “Gultik berapa piring?” yang menampilkan para penikmat menikmati hidangan legendaris ini dalam porsi besar.
Tren ini turut menghidupkan kembali nostalgia sekaligus memperkenalkan Gultik kepada generasi muda.
Pedagang Gultik umumnya berjualan di trotoar dengan gerobak kayu berpayung warna-warni.
Mereka mulai beroperasi di malam hari, saat suasana Jakarta lebih sejuk dan cocok untuk menikmati hidangan hangat ini bersama teman atau keluarga.
Penjual Gultik saat ini tidak hanya berasal dari Sukoharjo saja.
Penyebaran dan Cita Rasa Khas
Meskipun identik dengan Jakarta, akar Gultik berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah.
Para pedagang yang berasal dari daerah tersebut membawa resep asli yang kemudian sedikit beradaptasi dengan lidah kota besar.
Tidak hanya Jakarta, popularitas Gultik juga telah menyebar ke kota lain seperti Medan.
(*)