7 Jenis Ular Merah yang Ada di Indonesia, Kenali Tingkat Bahayanya - Liputan6
7 Jenis Ular Merah yang Ada di Indonesia, Kenali Tingkat Bahayanya
Mengenal jenis ular merah yang ada di Indonesia, mulai dari ular kepala merah yang mematikan hingga ular pipa yang tidak berbisa.
Ular Picung (Rhabdophis subminiatus) merupakan salah satu jenis ular merah yang ada di Indonesia (Wikimedia Commons)
Liputan6.com, Jakarta - Jenis ular merah yang ada di Indonesia sering kali menarik perhatian karena warnanya yang mencolok. Namun keindahan tersebut biasanya menjadi peringatan akan bahaya yang mengintai.
Indonesia sebagai negara tropis memiliki keragaman herpetofauna yang sangat tinggi, termasuk spesies ular yang memiliki pigmen merah pada tubuhnya. Baik sebagai warna dasar maupun sebagai corak peringatan (aposematik).
Warna merah pada ular di Indonesia memiliki fungsi beragam, mulai dari mekanisme pertahanan diri untuk menakut-nakuti predator hingga bentuk kamuflase di lantai hutan yang penuh dengan dedaunan kering.
Beberapa spesies seperti ular cabai dan ular kepala merah memiliki bisa neurotoksin yang sangat kuat. Berikut Liputan6.com ulas lengkap pembahasannya, Rabu (24/12/2025).
1. Ular Kepala Merah (Bungarus flaviceps)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454459/original/075780200_1766560593-Ular_Kepala_Merah__Bungarus_flaviceps___Wikimedia_Commons_.jpg)
Jenis ular merah yang ada di Indonesia ini merupakan salah satu spesies krait yang paling langka dan mematikan. Secara visual, ular ini sangat mudah dikenali karena bagian kepala hingga leher serta ujung ekornya berwarna merah menyala.
Sementara bagian tubuh tengahnya berwarna hitam pekat dengan garis biru di sisi samping. Kombinasi warna yang kontras ini merupakan peringatan bagi predator bahwa ular ini memiliki senjata kimia yang sangat kuat.
Ular kepala merah mendiami hutan-hutan primer yang lembap dan dekat dengan sumber air di wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Meskipun sifatnya cenderung pemalu dan tidak agresif, ular ini memiliki bisa neurotoksin yang dapat melumpuhkan sistem saraf dalam waktu singkat.
2. Ular Cabai Besar (Calliophis bivirgatus)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454460/original/015238300_1766560594-Ular_Cabai_Besar__Calliophis_bivirgatus___Wikimedia_Commons_.jpg)
Ular cabai besar memiliki penampilan yang sangat eksotis dengan tubuh ramping berwarna biru gelap atau hitam, namun bagian kepala, perut, dan ekornya berwarna merah darah.
Keunikan utama spesies ini terletak pada kelenjar bisanya yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai sepertiga dari panjang total tubuhnya. Hal ini membuat ular cabai besar menjadi salah satu ular dengan sistem penyaluran bisa paling unik di dunia reptil.
Spesies ini biasanya ditemukan bersembunyi di bawah serasah daun atau kayu lapuk di lantai hutan. Walaupun jarang menggigit manusia, bisanya mengandung toksin unik yang disebut calliotoxin, yang bekerja seketika pada kanal natrium saraf dan menyebabkan kelumpuhan otot.
Oleh karena itu, ular ini dikategorikan sebagai spesies yang sangat berbahaya meskipun ukurannya tidak sebesar ular kobra atau sanca.
3. Ular Kucing Merah (Boiga nigriceps)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454461/original/053720300_1766560594-Ular_Kucing_Merah__Boiga_nigriceps___Wikimedia_Commons_.jpg)
Ular ini memiliki warna tubuh dominan merah bata hingga merah kecokelatan yang tampak sangat elegan saat terkena cahaya. Sebagai anggota dari genus Boiga, ular kucing merah memiliki mata yang besar dengan pupil vertikal menyerupai mata kucing, yang membantunya berburu di kegelapan malam.
Tubuhnya sangat ramping dan lincah, memungkinkannya bergerak cepat di antara dahan pohon (arboreal).
Meskipun memiliki taring bisa di bagian belakang rahang (opistoglypha), ular kucing merah dikategorikan berbisa menengah. Bagi manusia dewasa yang sehat, gigitannya biasanya hanya menimbulkan efek bengkak atau nyeri lokal dan jarang berakibat fatal.
Ular ini sering ditemukan di hutan dataran rendah serta perkebunan, di mana ia memangsa burung kecil, kadal, dan mamalia kecil sebagai sumber makanan utamanya.
4. Ular Hijau Buntut Merah (Trimeresurus albolabris)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5434816/original/064382300_1764990127-Ular_Hijau_Buntut_Merah__Trimeresurus_albolabris___Wikimedia_Commons_.jpg)
Walaupun tubuh utamanya berwarna hijau cerah, bagian ujung ekor ular ini memiliki warna merah karat atau merah pucat yang sangat khas.
Warna merah pada ekor tersebut berfungsi sebagai alat pemikat (caudal luring) untuk memancing mangsa seperti katak atau kadal agar mendekat. Ular ini termasuk dalam kelompok pit viper yang memiliki sensor panas di wajahnya untuk mendeteksi keberadaan mangsa di malam hari.
Ular ini sangat umum ditemukan di Indonesia, mulai dari kawasan hutan hingga taman di area perumahan. Sifatnya yang sangat pasif namun bisa menyerang dengan kecepatan kilat membuat manusia sering tidak sengaja menyentuhnya saat sedang berkebun.
Bisanya bersifat hemotoksin yang menyerang jaringan darah dan dapat menyebabkan kerusakan permanen atau amputasi jika tidak segera ditangani dengan antivenom yang tepat.
5. Ular Picung (Rhabdophis subminiatus)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454462/original/091527300_1766560594-Ular_Picung__Rhabdophis_subminiatus___Wikimedia_Commons_.jpg)
Ular picung masuk dalam daftar jenis ular merah yang ada di Indonesia. Ular ini memiliki corak yang sangat cantik dengan gradasi warna merah, oranye, dan kuning pada bagian lehernya, terutama saat ular tersebut merasa terancam dan memipihkan lehernya.
Pada masa lalu, ular ini sering dianggap tidak berbisa dan banyak diperjualbelikan sebagai hewan peliharaaan karena warnanya yang menarik. Namun, riset medis terbaru mengonfirmasi bahwa ular picung memiliki bisa yang sangat mematikan bagi manusia.
Keunikan lain dari ular picung adalah kemampuannya menyimpan racun dari kodok yang dimakannya ke dalam kelenjar khusus di lehernya, menjadikannya ular yang memiliki pertahanan ganda: gigitan berbisa dan kulit yang beracun.
Habitat alaminya meliputi area persawahan, pinggiran sungai, dan hutan sekunder. Ini karena sifatnya yang sering dianggap tidak berbahaya, banyak kasus gigitan terjadi akibat kelalaian dalam menangani ular ini secara langsung.
6. Ular Pipa atau Ular Belang Bata (Cylindrophis ruffus)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454463/original/032065200_1766560595-Ular_Pipa_atau_Ular_Belang_Bata__Cylindrophis_ruffus___Wikimedia_Commons_.jpg)
Ular ini memiliki pola belang-belang merah dan hitam pada tubuh bagian bawah dan ekornya, sementara bagian punggungnya cenderung berwarna gelap metalik. Ini adalah jenis ular merah yang ada di Indonesia yang tidak berbisa.
Saat merasa terancam, ular pipa akan menyembunyikan kepalanya dan mengangkat ekornya yang berwarna merah cerah untuk mengelabui predator agar menyerang bagian ekor. Strategi pertahanan ini sering membuat orang awam ketakutan karena ekornya terlihat seperti kepala yang siap menyerang.
Meskipun tampilannya terlihat mengancam, ular pipa sama sekali tidak memiliki kelenjar bisa dan tidak memiliki taring. Ular ini menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam tanah (fosorial) atau di bawah tumpukan sampah organik untuk mencari cacing atau larva serangga.
Ular pipa adalah contoh nyata dari mimikri atau penyamaran di alam, di mana hewan tidak berbahaya meniru pola warna hewan berbisa untuk melindungi diri.
7. Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454464/original/091517700_1766560595-Ular_Pelangi__Xenopeltis_unicolor____Wikimedia_Commons_.jpg)
Ular pelangi dikenal karena sisiknya yang sangat mengilap dan akan memancarkan warna-warni pelangi saat terkena sinar matahari.
Namun pada individu tertentu atau saat baru berganti kulit, bagian samping tubuhnya sering menunjukkan warna kemerahan atau cokelat kemerahan yang halus. Ular ini memiliki struktur tubuh yang membulat dengan kepala yang menyatu dengan leher, memudahkan mereka untuk menggali tanah.
Ular ini termasuk dalam kategori tidak berbisa dan sangat jarang menggigit meskipun diprovokasi. Mereka lebih memilih untuk melarikan diri atau mengeluarkan bau yang tidak sedap dari anusnya sebagai bentuk pertahanan.
Ular pelangi banyak ditemukan di kawasan lahan basah dan persawahan di seluruh kepulauan Indonesia, berperan penting dalam ekosistem sebagai pengendali populasi tikus dan katak.
FAQ
Apa jenis ular merah paling berbisa di Indonesia?
Ular Kepala Merah (Bungarus flaviceps) dan Ular Cabai merupakan spesies dengan tingkat toksisitas tertinggi.
Apakah semua ular dengan ekor merah itu berbahaya?
Tidak semua, namun Ular Hijau Buntut Merah memiliki bisa tinggi yang perlu diwaspadai.
Bagaimana ciri ular picung yang berwarna merah?
Memiliki warna merah atau oranye mencolok pada bagian leher yang akan terlihat jelas saat ular merasa terancam.
Apakah ada ular merah yang tidak berbisa di Indonesia?
Ya, Ular Pipa (Cylindrophis ruffus) memiliki corak merah namun tidak memiliki bisa sama sekali.
Di mana habitat umum jenis ular merah yang ada di Indonesia?
Sebagian besar menempati hutan lembap, semak belukar, hingga area persawahan dan perkebunan penduduk.