Alasan Kenapa Banyak Kuliner Tradisional Enak di Solo, Ada Pengaruh Keraton & Penjajahan Belanda - Tribunsolo
Alasan Kenapa Banyak Kuliner Tradisional Enak di Solo, Ada Pengaruh Keraton & Penjajahan Belanda - Tribunsolo.com
Ringkasan Berita:
- Solo dikenal sebagai Kota Gastronomi berkat kuliner tradisionalnya yang beragam, bersejarah, dan terjangkau, menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
- Lima kuliner Solo telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional: Serabi Notosuman, Sate Kere, Sate Buntel, Timlo Solo, dan Roti Kecik Ganep.
- Kekayaan kuliner Solo tumbuh dari sejarah kerajaan, kesuburan tanah, dan inovasi masyarakat, menjadikannya aset penting bagi pariwisata dan ekonomi lokal.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, kini diakui sebagai destinasi wisata yang direkomendasikan.
Tak hanya punya banyak wisata budaya dan sejarah, Solo juga terkenal sebagai kota jujugan kuliner.
Ya, Solo sekarang dikenal dengan beragam kuliner tradisional.
Hal ini semakin menegaskan posisinya sebagai aset penting dalam sektor pariwisata.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyoroti nilai sejarah dan keberagaman kuliner yang membuat Solo pantas disebut sebagai Kota Gastronomi.
Salah satu keunggulan kuliner Solo adalah presentasi yang menarik dan harga yang terjangkau.

Kuliner Solo dapat diterima oleh berbagai selera, sekaligus memiliki nilai sejarah dan cerita yang khas.
Beberapa hotel dan restoran di Solo bahkan menyajikan hidangan lengkap dengan narasi di balik makanan tersebut, sehingga menambah pengalaman wisatawan.

Kuliner Tradisional sebagai Warisan Budaya
Menurut Andre Rahmanto, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Solo, lima kuliner tradisional Solo telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional pada 2021, yakni:
- Serabi Notosuman
- Sate Kere
- Sate Buntel
- Timlo Solo
- Roti Kecik Ganep
Selain itu, Solo memiliki makanan khas lain yang menjadi favorit wisatawan, seperti: nasi liwet yang terinspirasi dari nasi samin, tengkleng yang muncul saat masa penjajahan Jepang, dan selat Solo, perpaduan bistik dan salad.
Sejarah dan Keberagaman Kuliner Solo
Kekayaan kuliner Solo tidak terlepas dari sejarah dan kondisi geografis kota ini.
Kesuburan tanah di Solo membuat hasil bumi melimpah, sehingga masyarakat terdorong untuk menciptakan berbagai kreasi makanan.
Sebagai pusat kerajaan, semua hasil bumi dari wilayah sekitarnya masuk ke Solo untuk diperniagakan.
Kondisi ini membuat masyarakat Solo saat itu selalu berusaha mengkreasikan bahan yang ada untuk dimakan.

Selain itu, ragam kuliner Solo sudah dikenal sebelum industri gula tebu berkembang.
Pada saat perpindahan keraton dari Kartasura ke Solo pada 1745, 17 macam jenang diarak dalam kegiatan boyong kedhaton, menggunakan gula kelapa sebagai pemanis.
Setelah bisnis perkebunan gula tebu dan kopi berkembang pada masa Hindia Belanda (1830-an), kelas priyayi dan bangsawan Solo semakin mengembangkan hobi kuliner.
Mereka tidak hanya memanfaatkan kuliner sebagai bagian dari gaya hidup, tetapi juga untuk mendorong perekonomian masyarakat melalui perdagangan makanan khas.
(*)