Asal-usul Desa Bugisan Klaten, Jejak Prajurit Bogis hingga Lahirnya Desa Wisata Candi Plaosan - Tribunsolo
Asal-usul Desa Bugisan Klaten, Jejak Prajurit Bogis hingga Lahirnya Desa Wisata Candi Plaosan - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/IBNU DWI TAMTOMO
Ringkasan Berita:
- Desa Bugisan di Kecamatan Prambanan, Klaten, berada di wilayah perbatasan DIY dan memiliki sejarah strategis sejak masa kerajaan. Nama Bugisan berasal dari Prajurit Bogis, pasukan Keraton Surakarta penjaga perbatasan.
- Identitas Desa Bugisan tak lepas dari Candi Plaosan atau Candi Kembar, peninggalan bersejarah yang menjadi simbol toleransi pada masa lampau.
- Sejak 2016, Bugisan berkembang menjadi desa wisata berbasis sejarah dan budaya lewat Festival Candi Kembar serta beragam kesenian lokal.
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Desa Bugisan merupakan salah satu desa bersejarah di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Letaknya yang berada di wilayah perbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadikan desa ini memiliki posisi strategis sejak masa lampau.
Lokasi Desa Bugisan ini berjarak 13 kilometer dari Kantor Pemkab Klaten dan bisa ditempuh kurang lebih 20 menit kendaraan pribadi.
Nama Bugisan sendiri tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari sejarah panjang penjagaan wilayah perbatasan dua kerajaan besar di Jawa.
Berasal dari Nama Prajurit Bogis
Menurut cerita yang dipercaya masyarakat setempat, nama Bugisan berasal dari kata Bogis.
Pada masa lalu, kawasan ini menjadi tempat tinggal para Prajurit Bogis, yakni prajurit Keraton Kasunanan Surakarta yang ditugaskan menjaga keamanan perbatasan antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Seiring waktu, penyebutan Bogis oleh masyarakat berubah pelafalan menjadi Bugisan, yang kemudian melekat sebagai nama wilayah hingga kini.
Jejak sejarah tersebut menjadi salah satu identitas penting Desa Bugisan.
Nilai-nilai keprajuritan, kedisiplinan, serta toleransi yang diwariskan dari masa lalu masih terasa dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Candi Plaosan, Warisan Sejarah dan Simbol Toleransi
Asal-usul dan perkembangan Desa Bugisan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Candi Plaosan, atau yang dikenal pula sebagai Candi Kembar.
Kompleks candi ini merupakan peninggalan bersejarah yang menjadi simbol kejayaan budaya dan spiritual masa lampau.
Dua bangunan candi yang berdiri berdampingan dengan bentuk serupa ini mencerminkan nilai toleransi, keharmonisan alam, budaya, dan kehidupan beragama.
Relief-relief pada Candi Plaosan menggambarkan aktivitas dan budaya masyarakat pada zamannya.
Hingga kini, candi tersebut tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga menjadi akar tumbuhnya identitas budaya Desa Bugisan.
Dari Desa Bersejarah Menjadi Desa Wisata
Kesadaran masyarakat akan kekayaan sejarah dan budaya mendorong Desa Bugisan berkembang menjadi Desa Wisata sejak tahun 2016, ditandai dengan penyelenggaraan Festival Candi Kembar yang rutin digelar setiap tahun.
Festival ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus sarana memperkenalkan Desa Bugisan ke tingkat nasional.
Selain Candi Plaosan, Desa Bugisan menawarkan beragam potensi wisata budaya seperti Gejlog Lesung, Karawitan, kirap budaya, tari kolosal, hingga aneka kuliner dan produk olahan lokal.
Nuansa pedesaan yang asri, lahan pertanian hijau, serta keramahan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Identitas Bugisan di Masa Kini
Perpaduan sejarah prajurit Bogis, warisan Candi Plaosan, serta kreativitas masyarakat menjadikan Desa Bugisan sebagai desa yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.
Pengakuan sebagai salah satu 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 semakin mengukuhkan posisi Bugisan sebagai destinasi wisata berbasis sejarah dan kearifan lokal.
Dari desa penjaga perbatasan hingga desa wisata unggulan, Bugisan membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan.
(*)