0
News
    Home Featured Ilmu Pengetahuan Klaten Sejarah Spesial

    Asal-usul Dukuh Mao di Klaten : Ada Sejak Mataram Kuno, Punya Mitos Dilarang Tanam Pohon Pisang - Tribunsolo

    8 min read

     

    Asal-usul Dukuh Mao di Klaten : Ada Sejak Mataram Kuno, Punya Mitos Dilarang Tanam Pohon Pisang - Tribunsolo.com


    TribunSolo.com/Zharfan Muhana
    SEJARAH DESA KLATEN - Dukuh Mao, Jambeyan, Jatinom, Klaten memiliki pantangan menanam pohon pisang. Beginilah asal-usul Dukuh Mao di Klaten, Jawa Tengah. 
    Ringkasan Berita:
    • Dukuh Mao di Klaten dikenal dengan pantangan turun-temurun menanam pohon pisang. Hingga kini, hampir tak ada pohon pisang di pekarangan, sawah, maupun kebun warga.
    • Larangan ini diyakini berkaitan dengan musibah, diperkuat kisah warga yang meninggal setelah menanam pisang, serta legenda Roro Amis yang dianggap membawa kesialan.
    • Selain mitos, Dukuh Mao merupakan permukiman tua sejak era Mataram Kuno, dibuktikan Prasasti Mao (Abhayananda) yang ditemukan pada 1962.

    TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah padukuhan yang menyimpan kisah unik sekaligus sarat nilai sejarah bernama Dukuh Mao.

    Dukuh Mao yang terletak di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom, dikenal luas karena kepercayaan turun-temurun yang hingga kini masih dijaga oleh sebagian warganya, yakni pantangan menanam pohon pisang.

    Untuk informasi, lokasi Dukuh Mao ini berjarak 8,6 kilometer dari Alun-alun Klaten atau bisa ditempuh 20 menit kendaraan pribadi.

    Pantangan ini tergolong tidak lazim, mengingat pohon pisang merupakan tanaman yang umum dijumpai di lingkungan pedesaan.

    Namun di Dukuh Mao, hampir tidak ditemukan satu pun pohon pisang, baik di pekarangan rumah warga, kebun, maupun area persawahan

     Kondisi ini sangat kontras dibandingkan dusun-dusun di sekitarnya.

    Rekomendasi Untuk Anda
    Makna Pemasangan Bleketepe dalam Pernikahan Adat di Solo, Dipercaya sebagai Tolak Bala

    Seorang warga setempat, Yunanto, membenarkan adanya kepercayaan tersebut.

    Meski kini jumlah warga yang benar-benar meyakininya mulai berkurang, sebagian besar masyarakat tetap memilih untuk tidak menanam pisang demi menjaga keharmonisan lingkungan.

    “Sekarang sudah berkurang yang percaya, tapi masih nggak berani menanam,” ujar Yunanto.

    Apa yang Terjadi Jika Nekat Tanam Pohon Pisang?

    Ia menceritakan kisah yang diwariskan dari orang tuanya.

    Konon, kakek buyutnya yang bernama Mbah Iman pernah melanggar pantangan dengan menanam pohon pisang di halaman rumah.

    Beberapa tahun kemudian, Mbah Iman meninggal dunia setelah menggembala bebek di sawah, disusul istrinya sebulan kemudian.

    Peristiwa tersebut semakin menguatkan keyakinan warga akan larangan menanam pisang di Dukuh Mao.

    Akibat pantangan tersebut, warga lebih memilih menanam pohon lain seperti rambutan, sukun, dan melinjo.

    Rumah di Dukuh Mao, Jambeyan, Jatinom, Klaten tidak terdapat pohon pisang menghindari pantangan yang dipercaya warga setempat.
    SEJARAH DI KLATEN - Rumah di Dukuh Mao, Jambeyan, Jatinom, Klaten tidak terdapat pohon pisang menghindari pantangan yang dipercaya warga setempat. (TribunSolo.com/Zharfan Muhana)

    Meski demikian, masyarakat Dukuh Mao tetap mengonsumsi pisang. Buah dan daun pisang biasanya dibeli atau dibawa oleh kerabat dari luar dusun, terutama saat ada hajatan atau acara adat.

    “Kalau ada hajatan, saudara dari luar sudah paham. Jadi daun pisang dan pisangnya dibawakan dari sana,” jelas Yunanto.

    Menariknya, Yunanto mengaku tidak sepenuhnya mempercayai mitos tersebut.

    Namun ia memilih untuk tidak menanam pisang demi menghindari potensi konflik dengan tetangga.

    “Kalau keyakinan, ya agama saja,” ujarnya.

    Asal-usul Dukuh Mao

    Tak hanya kaya mitos, Dukuh Mao juga memiliki nilai sejarah tinggi. Pegiat cagar budaya Klaten, Hari Wahyudi, menyebutkan bahwa Dukuh Mao sudah ada sejak masa Mataram Kuno.

    Dalam prasasti Kurunan bertahun 855 Masehi, wilayah ini disebut sebagai Wanua i Maho dan masuk dalam kawasan Watak Wka.

    Pada tahun 1962, warga setempat juga menemukan Prasasti Mao atau Prasasti Abhayananda yang kini disimpan di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.

    Prasasti berbentuk batu patok tersebut menjadi bukti bahwa Dukuh Mao merupakan salah satu permukiman tua yang memiliki peran penting dalam sejarah.

    4 Fakta Dukuh Mao

    Berikut empat fakta menarik tentang Dusun Mao

    1. Pantangan Menanam Pohon Pisang

    Fakta paling mencolok dari Dusun Mao adalah larangan menanam pohon pisang jenis apa pun.

    Jika berkeliling dusun, tak akan ditemukan pohon pisang di pekarangan rumah, sawah, maupun tepi dusun.

    Kondisi ini sangat berbeda dengan dusun sekitar yang dipenuhi tanaman pisang.

    2. Diyakini Bisa Mendatangkan Musibah

    Larangan tersebut dipercaya sudah ada sejak zaman leluhur.

    Warga meyakini bahwa siapa pun yang melanggar pantangan dengan menanam pisang bisa mengalami musibah atau sakit.

    Bahkan, jika ada pohon pisang yang tumbuh sendiri, warga akan segera menebangnya demi menghindari hal-hal buruk.

    3. Berasal dari Legenda Roro Amis

    Pantangan menanam pisang diyakini berawal dari legenda Roro Amis, seorang gadis yang konon hanyut terbawa arus saat berenang menggunakan gedebok pisang.

    Sejak peristiwa tragis itu, pohon pisang dianggap sebagai simbol kesialan oleh warga Dusun Mao dan dihindari hingga sekarang.

    4. Dusun Tua Peninggalan Mataram Kuno

    Di balik mitosnya, Dusun Mao merupakan wilayah yang sarat sejarah. Keberadaannya tercatat sejak masa Mataram Kuno dalam Prasasti Kurungan bertahun 885 Masehi.

    Selain itu, Prasasti Mao atau Prasasti Abhayananda yang ditemukan pada 1962 menjadi bukti bahwa dusun ini pernah memiliki peran penting pada masa lampau.

    (*)

    Komentar
    Additional JS