0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Kesehatan Spesial Virus Nipah

    Belum Ada Obatnya, Seberapa Mematikan Virus Nipah bagi Manusia? - Vivq

    6 min read

      

    Belum Ada Obatnya, Seberapa Mematikan Virus Nipah bagi Manusia?

    Jakarta, VIVA Virus nipah yang terjadi di Bengal Barat India menjadi sorotan dunia. Hingga Selasa 27 Januari 2026, dilaporkan dua perawat dari rumah sakit swasta dekat Kolkata terkonfirmasi positif virus ini. Salah satu perawat dilaporkan dalam keadaan kritis.

    Wamenkes: Virus Nipah Belum Masuk Indonesia

    Virus nipah merupakan infeksi zoonosis yang sangat berbahaya dan telah berulang kali muncul di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dan dibawa oleh kelelawar pemakan buah (spesies Pteropus). Kondisi ini membuat penularan ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung tetap menjadi ancaman serius.

    Pada manusia, infeksi virus Nipah bisa bervariasi, mulai dari gejala ringan bahkan tanpa gejala, hingga gangguan pernapasan berat dan ensefalitis fatal atau radang otak. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus khusus yang disetujui.

    10 Fakta Virus Nipah yang Diam-diam Mematikan, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Serang Otak

    Dengan tingkat kematian yang pada wabah-wabah sebelumnya berkisar antara 40 hingga 75 persen, virus ini menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat di wilayah mana pun ia muncul.

    “Begitu seseorang terinfeksi, penularan antarmanusia juga bisa terjadi, terutama dalam situasi kontak dekat,” ujar Konsultan Penyakit Menular di Manipal Hospital, Old Airport Road, Dr. Neha Mishra dikutip dari laman NDTV, Selasa 27 Januari 2026.

    Virus Nipah Guncang India, Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Tertular

    Ia menambahkan, kasus awal sering kali sulit dikenali, sehingga keterlambatan deteksi dapat meningkatkan risiko penularan dan memperburuk hasil klinis. Memahami alasan mengapa virus Nipah membutuhkan deteksi dini mulai dari cara penularan hingga tingkat keparahan penyakit sangat penting bagi kesiapan masyarakat dan sistem layanan kesehatan.

    Apa Itu Virus Nipah dan Bagaimana Penularannya

    Virus Nipah adalah patogen zoonosis yang pertama kali diidentifikasi pada 1998. Sejak itu, virus ini dikaitkan dengan berbagai wabah di Bangladesh, India, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kelelawar pemakan buah merupakan reservoir utama virus ini.

    Manusia umumnya terinfeksi saat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar, terutama nira kurma mentah praktik yang cukup umum di beberapa wilayah Asia Selatan.

    “Salah satu tantangan dalam infeksi virus Nipah adalah adanya fase tanpa gejala pada sebagian kasus. Hal ini membuat deteksi dini menjadi sulit dan meningkatkan risiko penularan tanpa disadari,” Dr. Mishra menjelaskan.

    Penularan dari manusia ke manusia juga telah didokumentasikan, khususnya di lingkungan perawatan dengan kontak erat dan paparan cairan tubuh.

    Gejala: Dari Ringan hingga Berat

    Infeksi virus Nipah pada tahap awal sering kali ditandai dengan gejala yang tidak spesifik, sehingga sulit dibedakan dari penyakit virus lainnya. Pasien biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan sakit tenggorokan.

    Sebagian pasien juga dapat mengalami gejala pernapasan seperti batuk dan sesak napas, yang meningkatkan risiko penularan melalui droplet.

    Dalam banyak kasus, infeksi dapat berkembang dengan cepat menjadi gangguan saraf berat, terutama ensefalitis, hanya dalam hitungan hari. Gejalanya meliputi mengantuk berlebihan, kebingungan, kejang, hingga koma. Perkembangan cepat ini menunjukkan betapa pentingnya identifikasi dini sebelum kondisi memburuk.

    Tingkat Kematian Tinggi dan Terbatasnya Pengobatan

    Tingkat kematian akibat virus Nipah tergolong sangat tinggi. Secara historis, wabah menunjukkan angka kematian antara 40 hingga 75 persen, bahkan ada klaster dengan tingkat kematian hampir 100 persen di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas. Angka ini membedakan Nipah dari banyak infeksi virus lain dan menegaskan pentingnya deteksi serta penanganan dini.

    Dr. Mishra menekankan beratnya kondisi klinis penyakit ini.

    “Penyakit ini biasanya ditandai demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan gangguan pernapasan. Dalam banyak kasus, virus dengan cepat menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis,” jelasnya.

    Pasien dapat mengalami kejang, koma, serta komplikasi neurologis berat. Saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk virus Nipah, dan pengobatan masih terbatas pada perawatan suportif intensif. Beberapa antivirus seperti remdesivir dan ribavirin pernah dicoba, namun masih bersifat eksperimental dan belum terbukti efektif untuk penggunaan rutin.

    Pencegahan Adalah Kunci

    Tanpa adanya terapi atau vaksin khusus, pencegahan menjadi langkah paling efektif. Menghindari konsumsi nira kurma mentah dan buah-buahan yang terpapar kelelawar, menjaga kebersihan tangan, serta menggunakan alat pelindung saat menangani hewan dapat secara signifikan menurunkan risiko infeksi.

    “Pencegahan tetap menjadi strategi paling efektif. Menghindari nira kurma mentah, menggunakan perlindungan saat berinteraksi dengan hewan, dan menjaga kebersihan tangan dapat sangat mengurangi risiko tertular,” tegas Dr. Mishra.

    Ia mengingatkan bahwa setelah infeksi terjadi, perjalanan penyakit bisa berlangsung cepat dan sulit dikendalikan.

    Pentingnya Penanganan Medis Sejak Dini

    Sebab gejala awal sering menyerupai penyakit virus biasa, pemeriksaan medis segera sangat penting, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan aktivitas virus Nipah. Kewaspadaan tinggi diperlukan jika gejala muncul setelah paparan berisiko, seperti konsumsi nira kurma mentah atau kontak dengan orang yang bergejala.

    Diagnosis dini melalui pemeriksaan PCR dan deteksi antibodi memungkinkan perawatan suportif diberikan lebih cepat, sekaligus memicu langkah kesehatan masyarakat penting seperti isolasi dan pelacakan kontak.

    Virus Nipah tetap menjadi patogen yang sangat mematikan dan sulit diprediksi, tanpa vaksin maupun pengobatan khusus. Deteksi dini, pemahaman jalur penularan, serta penanganan medis yang cepat menjadi kunci untuk menekan angka kematian. Pandangan Dr. Neha Mishra mengingatkan bahwa mengenali gejala sejak awal dan bertindak cepat dapat membawa perbedaan besar, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat secara luas.


    Komentar
    Additional JS