Kenapa Jadah dan Wajik Jadi Kuliner Wajib Prosesi Lamaran atau Nikahan di Solo? Ini Alasannya - Tribunsolo
Kenapa Jadah dan Wajik Jadi Kuliner Wajib Prosesi Lamaran atau Nikahan di Solo? Ini Alasannya - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Jadah dan wajik hampir selalu hadir dalam prosesi lamaran dan pernikahan adat Jawa di Solo karena bukan sekadar makanan, melainkan simbol ikatan, kebersamaan, dan doa kedua keluarga yang berbesanan.
- Tekstur ketan yang lengket melambangkan gawe raket atau perekat hubungan, dimaknai agar keluarga dan pasangan pengantin selalu rukun, erat, dan sulit terpisahkan.
- Proses pembuatannya yang butuh kesabaran menjadi filosofi rumah tangga: tidak instan, perlu ketelatenan, saling mengalah, serta dukungan.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya dan kuliner tradisional.
Di tanah Jawa, khususnya Solo dan sekitarnya, makanan tidak sekadar berfungsi sebagai pengganjal perut, namun juga sarat makna dan filosofi.
Salah satu kuliner yang hampir tak pernah absen dalam prosesi lamaran dan pernikahan adat Jawa adalah jadah dan wajik.
Bagi masyarakat Solo, kehadiran jadah dan wajik bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi mengandung pesan mendalam tentang ikatan, kebersamaan, dan harapan dalam membangun rumah tangga.
Asal Usul Jadah dan Wajik dalam Budaya Jawa
Jadah merupakan makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dikukus, kemudian dipadatkan dan disajikan dengan kelapa parut bercampur sedikit garam.
Dalam bahasa Jawa, kata jadah bermakna pasta, merujuk pada teksturnya yang kenyal dan lengket.

Sementara itu, wajik juga berbahan dasar beras ketan, dimasak bersama gula merah dan santan hingga menghasilkan rasa manis legit dan tekstur yang sama-sama lengket atau pliket.

Sejak dahulu, masyarakat Jawa sangat lekat dengan ritual-ritual kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.
Dalam setiap ritual tersebut, sesaji menjadi unsur penting.
Berdasarkan jurnal Inventarisasi Makanan Tradisional Jawa Unsur Sesaji di Pasar-Pasar Tradisional Kabupaten Bantul oleh Endang Nurhayati dkk (Universitas Negeri Yogyakarta), jadah dan wajik hampir selalu hadir sebagai bagian dari sesaji makanan.
Makna Filosofis: Perekat Dua Keluarga
Dalam prosesi lamaran dan pernikahan adat Jawa, khususnya di Solo, jadah dan wajik memiliki makna simbolis yang kuat, yakni gawe raket atau merekatkan hubungan.
Tekstur jadah dan wajik yang lengket dijadikan lambang eratnya ikatan antara dua keluarga yang akan berbesanan.
Filosofi ini berangkat dari sifat dasar beras ketan yang pliket, lengket dan sulit dipisahkan.
Orang Jawa menggambarkan hubungan ini dengan ungkapan pindha renggang kinepyur pulut, yang berarti hubungan yang awalnya berjarak menjadi rapat karena adanya perekat.
Perekat itu dianalogikan sebagai pulut atau ketan.
Dengan demikian, kehadiran jadah dan wajik dalam prosesi lamaran bukan sekadar suguhan, melainkan doa simbolik agar hubungan kedua keluarga terjalin akrab, rukun, dan saling menyatu.

Filosofi untuk Kedua Mempelai
Tak hanya untuk keluarga, jadah dan wajik juga menyimpan pesan moral bagi kedua calon pengantin.
Beras ketan yang lengket diharapkan menjadi pengingat agar hubungan suami istri kelak selalu erat, saling melekat, dan tidak mudah tercerai-berai oleh konflik.
Selain itu, proses pembuatan jadah dan wajik yang memerlukan waktu lama serta kesabaran tinggi juga mengandung makna filosofis.
Rumah tangga tidak dibangun secara instan.
Diperlukan ketelatenan, kesabaran, dan keikhlasan untuk menghadapinya.
Para sesepuh Jawa percaya, melalui simbol makanan ini, pengantin diajarkan untuk tidak mudah menyerah, tetap berkepala dingin, saling mengalah, dan saling mendukung dalam menghadapi ujian kehidupan rumah tangga.
Jadah dan Wajik dalam Perspektif Sejarah dan Sosial
Dari sudut pandang sejarah, jadah dan wajik mencerminkan kehidupan masyarakat agraris Jawa yang sangat bergantung pada hasil pertanian lokal seperti beras ketan dan kelapa.
Makanan ini tumbuh dari kebiasaan masyarakat desa yang memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Secara sosial, tradisi membuat jadah dan wajik dalam jumlah besar untuk acara adat menunjukkan nilai gotong royong dan kebersamaan.
Proses memasaknya sering dilakukan bersama-sama oleh keluarga dan tetangga, memperkuat ikatan sosial di lingkungan masyarakat.
Dari sisi ekonomi, jadah dan wajik dulu menjadi bagian dari ekonomi rumah tangga.
Kini, seiring berkembangnya pariwisata, makanan ini juga menjadi komoditas ekonomi dan oleh-oleh khas daerah, seperti di kawasan Tawangmangu yang terkenal dengan jadah bakar.
Tradisi yang Beradaptasi dengan Zaman
Seiring perkembangan zaman, jadah dan wajik mengalami inovasi.
Kini muncul berbagai varian rasa dan penyajian modern, mulai dari jadah isi cokelat, keju, hingga buah-buahan.
Meski tampil lebih kekinian, makna filosofisnya tetap melekat.
Bagi masyarakat Solo, keberlanjutan tradisi ini menjadi kabar baik.
Artinya, jadah dan wajik tidak hanya bertahan sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai simbol budaya yang masih hidup dan relevan.
(*)