0
News
    Home Adat Featured pisang Sejarah Solo Spesial Tradisi

    Kenapa Pisang Identik dengan Hantaran dan Dekor Pernikahan Adat Solo? Ini Penjelasannya - Tribunsolo

    8 min read

     

    Kenapa Pisang Identik dengan Hantaran dan Dekor Pernikahan Adat Solo? Ini Penjelasannya - Tribunsolo.com

    Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono

    Tribun Jogja/Hendra Krisdianto
    TARUB - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Pisang raja identik dengan unsur pernikahan di Solo Raya, baik untuk hantaran dan dekorasi, ternyata ini maknanya. 
    Ringkasan Berita:
    • Pisang raja menjadi unsur wajib hantaran pernikahan Jawa karena rasanya paling manis, melambangkan kebahagiaan, kebesaran, dan harapan baik bagi kehidupan rumah tangga.
    • Pengemasannya harus setangkep atau sesisir dan diikat benang katun putih tanpa sambungan sebagai simbol doa, niat suci, dan permohonan anugerah Tuhan.
    • Pisang raja juga hadir dalam tuwuhan dan dekorasi tarub, bermakna harapan rumah tangga yang manis, sejahtera, serta keturunan yang berlimpah.

    TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dalam tradisi pernikahan Jawa, khususnya di Solo Rayahantaran pernikahan mengandung beberapa unsur wajib.

    Salah satunya adalah pisang raja.

    Nah, mungkin Tribuners bertanya-tanya kenapa sih pisang raja sering jadi salah satu syarat hantaran?

    Selain hantaran, pisang raja juga dijadikan dekorasi tarub, hingga sebagai ornamen di samping kursi mempelai.

    Mengapa pisang raja menjadi simbol dalam pernikahan? Berikut ulasan tentang makna dan filosofinya dikutip TribunSolo.com dari berbagai sumber.

    Pisang Raja: Manis, Kebesaran, dan Harapan

    Pisang raja dikenal memiliki rasa yang sangat manis, bahkan paling manis dibandingkan jenis pisang lainnya.

    Rekomendasi Untuk Anda
    Makna Pemasangan Bleketepe dalam Pernikahan Adat di Solo, Dipercaya sebagai Tolak Bala

    Murdijati Gardjito, guru besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa pisang raja dipilih karena kandungan gula yang tinggi, menjadikannya simbol kemanisan dalam kehidupan pernikahan.

    "Pisang raja itu rasanya paling manis, karena kandungan gulanya paling tinggi," jelas Mur.

    Lebih dari sekadar rasa manis, pisang raja melambangkan kebesaran, kebahagiaan, dan harapan baik untuk kedua mempelai.

    Dalam budaya Jawa, pisang raja digunakan dalam hantaran sebagai doa dan harapan agar kehidupan pernikahan kedua mempelai dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan.

    "Orang mengirim pisang raja itu untuk keperluan yang membutuhkan simbol kebesaran, kemanisan, kebahagiaan, dan harapan yang baik," tambah Mur.

    TRADISI JELANG PERNIKAHAN - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro beberapa tahun lalu. Upacara pasang tarub sampai kini masih eksis di Solo Raya, Jawa Tengah, begini sejarahnya.
    TRADISI JELANG PERNIKAHAN - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro beberapa tahun lalu. Upacara pasang tarub sampai kini masih eksis di Solo Raya, Jawa Tengah, begini sejarahnya. (TribunSolo.com/Tribun Jogja/Hendra Krisdianto)

    Filosofi Pengemasan Pisang Raja dalam Hantaran

    Penggunaan pisang raja dalam hantaran pernikahan tidak bisa sembarangan.

    Setangkep pisang raja yang digunakan harus digantung atau disusun dalam bentuk yang mencerminkan harapan dan doa.

    Menurut Mur, pisang raja dalam hantaran harus setangkep atau sesisir, yang melambangkan tangan yang menengadah ke atas, memohon anugerah dari Tuhan.

    “Setangkep itu seperti tangan yang menengadah ke atas, mengharapkan anugerah Tuhan untuk semua harapan baik yang ditunggu-tunggu,” ujar Mur.

    Selain itu, pisang raja harus diikat dengan benang katun putih yang tidak ada sambungannya.

    Benang katun ini melambangkan doa yang terus mengalir tanpa henti, serta niat yang tulus dan suci.

    Penggunaan warna putih pada benang juga menunjukkan niat yang murni dan suci dari setiap harapan yang dipanjatkan.

    Keterkaitan Pisang Raja dengan Tuwuhan dalam Pernikahan Jawa

    Dalam budaya pernikahan adat Jawa, pisang raja bukan hanya bagian dari hantaran, tetapi juga digunakan dalam tuwuhan.

    Tuwuhan adalah dekorasi pernikahan yang dipasang di sekitar tarub, tenda, atau gerbang rumah pengantin.

    Tuwuhan terdiri dari berbagai jenis tumbuhan dan hasil bumi, salah satunya adalah pisang raja.

    Pisang raja di dalam tuwuhan memiliki makna agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan berumah tangga dengan manis dan penuh kebahagiaan.

    Selain itu, pisang raja dalam tuwuhan juga menjadi simbol harapan orang tua agar kedua mempelai bisa memberikan keturunan yang banyak dan sejahtera, sebagaimana buah pisang yang tumbuh dalam tandan yang berlimpah.

    Dengan makna ini, pisang raja menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pernikahan adat Jawa, mencerminkan doa dan harapan yang dipanjatkan oleh keluarga dan masyarakat untuk mempelai.

    Bunga Setaman: Harapan dalam Kehidupan Pernikahan

    Selain pisang raja, hantaran pernikahan Jawa juga melibatkan bunga setaman yang diletakkan di antara pisang.

    Bunga-bunga ini memiliki makna simbolis dari niat baik, kebahagiaan, dan kedamaian dalam hidup pernikahan.

    Bunga setaman yang harum juga menyimbolkan kebahagiaan yang ingin disebarkan ke seluruh keluarga dan lingkungan sekitar, agar mereka turut merasakan berkah dan kebaikan yang sama.

    (*)

    Komentar
    Additional JS