0
News
    Home Featured Klaten Kuliner Sego Gudang Spesial

    Sejarah Sego Gudang, Kuliner Legendaris dari Klaten yang Hadir dalam Berbagai Ritual - Tribunsolo

    8 min read

     

    Sejarah Sego Gudang, Kuliner Legendaris dari Klaten yang Hadir dalam Berbagai Ritual - Tribunsolo.com

    Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono

    Sajian Sedap
    KULINER LEGENDARIS - Ilustrasi gudangan tanpa nasi. Begini sejarah sego gudang, salah satu kuliner legendaris Klaten, Jawa Tengah. 
    Ringkasan Berita:
    • Sego Gudang, kuliner tradisional Klaten, terdiri dari nasi putih dengan sayuran rebus setengah matang, bumbu kelapa, bawang putih, kencur, dan taburan kedelai goreng, memberi rasa gurih, manis, dan segar, berbeda dari urap atau trancam.
    • Hidangan ini tak hanya untuk sarapan, tapi juga bagian ritual dan tradisi Jawa seperti bancakan weton, brokohan, atau sadranan.
    • Kini Sego Gudang masih bisa dinikmati di Solo, salah satunya di Warung Mak Min Purwosari, dengan harga sekitar Rp8.000 per porsi.

    TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang terletak di antara Solo-Yogyakarta memiliki deretan kuliner legendaris.

    Jika Solo punya sego liwet, maka Klaten punya sego gudang yang rasanya sudah melegenda.

    Sego gudang adalah salah satu kuliner tradisional Klaten yang sampai kini masih eksis.

    Kuliner ini merupakan warisan masyarakat pedesaan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran makanan modern.

    Di Klaten, Sego Gudang bukan makanan langka.

    Penjualnya bisa ditemui hampir di berbagai sudut kota, dari pagi hingga menjelang siang.

    Rekomendasi Untuk Anda
    Sejarah Klenyem, Gorengan Jadul di Solo yang Kini Mulai Langka

    Harganya pun sangat ramah di kantong.

    Dengan kisaran Rp3.000 hingga Rp8.000, seporsi Sego Gudang sudah cukup mengenyangkan sekaligus memanjakan lidah.

    Racikan Sederhana, Rasa Istimewa

    Sego Gudang terdiri dari nasi putih yang disajikan bersama aneka sayuran rebus setengah matang.

    Jenis sayurannya cukup beragam, mulai dari daun pepaya, daun bayung, daun bentis, kemangi, tauge, kacang panjang, kobis, wortel, hingga nangka muda.

    Sayuran ini direbus singkat agar tetap renyah, bahkan menimbulkan sensasi “krekut” saat dikunyah.

    Ciri khas Sego Gudang terletak pada bumbunya.

    Parutan kelapa yang dimasak dengan bawang putih, kencur, garam, sedikit gula merah, dan cabai menjadi kunci rasa.

    Tak lupa, taburan bubuk kedelai goreng yang ditumbuk kasar di atasnya memperkuat aroma dan cita rasa.

    Dominasi bawang putih dan kencur membuat rasanya gurih, segar, dan tidak terlalu pedas, dengan sensasi yang bertahan lama di lidah.

    Sego Gudang paling nikmat disantap saat nasi masih hangat dan disajikan dengan bungkus daun pisang atau daun jati, yang menambah aroma alami.

    Pelengkapnya pun sederhana, seperti kerupuk karak dari beras, tempe kemul atau tempe mendoan, hingga kerupuk nasi.

    KU,INER LEGEND SOLO - Penampakan gudangan atau urap, kuliner tradisional yang ada di Solo Raya, Jawa Tengah. Begini sejarahnya yang dipercaya telah eksis sejak abad ke-10.
    KU,INER LEGEND SOLO - Penampakan gudangan atau urap, kuliner tradisional yang ada di Solo Raya, Jawa Tengah. Begini sejarahnya yang dipercaya telah eksis sejak abad ke-10. (Sajian Sedap)

    Perbedaan dengan Urap dan Trancam

    Sekilas, Sego Gudang tampak mirip dengan urap atau trancam.

    Namun ketiganya memiliki perbedaan cukup mencolok.

    Pada urap, sayuran direbus dan dicampur bumbu kelapa yang dikukus bersama cabai, asam jawa, dan gula jawa.

    Trancam justru menggunakan sayuran mentah tanpa direbus sama sekali.

    Sementara itu, Sego Gudang khas Klaten menggunakan sayuran yang direbus setengah matang dengan potongan lebih halus.

    Rasanya pun cenderung tidak pedas, dengan aroma kencur dan bawang yang lebih menonjol.

    Inilah yang membuat Sego Gudang memiliki identitas tersendiri dibanding kuliner sejenis.

    Lebih dari Sekadar Makanan

    Bagi masyarakat Klaten, Sego Gudang bukan hanya santapan sehari-hari.

    Kuliner ini juga hadir dalam berbagai ritual dan tradisi Jawa, seperti bancakan weton (peringatan hari lahir), brokohan setelah melahirkan, munggah kap saat membangun rumah, hingga acara syukuran dan sadranan.

    Dalam acara tradisi, Sego Gudang biasanya disajikan dalam wadah besar lengkap dengan lauk pauk, lalu dinikmati bersama-sama. 

    Hal ini menjadikan Sego Gudang sebagai simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.

    Sayangnya, seiring waktu, jumlah penjual Sego Gudang kian berkurang.

    Kini, hanya segelintir orang tua di desa-desa tertentu di Klaten yang masih setia meracik dan menjualnya, umumnya dari rumah mereka sendiri.

    Meski begitu, masih ada warga yang menjadikan Sego Gudang sebagai menu sarapan sebelum ke sawah atau bekal anak sebelum berangkat sekolah.

    Rekomendasi Sego Gudang Otentik di Solo

    Menariknya, Sego Gudang kini juga mulai dikenal di luar Klaten. Di Solo, misalnya, sego gudang bisa ditemui di beberapa warung sarapan, salah satunya Warung Mak Min Gudangan di kawasan Purwosari.

    Warung sederhana ini berada di kawasan Purwosari, tepatnya di belakang Hotel Swiss-Belinn Saripetojo, Kota Surakarta.

    Warung Mak Min dikenal luas karena menu gudangannya yang autentik dan konsisten dari segi rasa.

    Selain nasi gudangan, pengunjung juga bisa menemukan menu tradisional lain seperti trancam serta aneka sayur masakan Jawa yang cocok disantap di pagi hari.

    Kenikmatan nasi gudangan semakin lengkap ketika disantap bersama lauk pendamping seperti lele goreng yang gurih dan renyah.

    Soal harga, Warung Mak Min ramah di kantong.

    Seporsi nasi gudangan dibanderol sekitar Rp8.000, menjadikannya pilihan sarapan murah meriah namun mengenyangkan.

    Warung Mak Min beralamat di Jl. Truntum VII, Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, dan buka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 11.00 WIB. 

    (*)

    Komentar
    Additional JS