Ternyata “Ular Naga” Itu Benar-Benar Ada! Kenalan dengan Xenodermus dari Indonesia - terbitharian
Ternyata “Ular Naga” Itu Benar-Benar Ada! Kenalan dengan Xenodermus dari Indonesia - terbitharian.com
TERBITHARIAN.COM — Di tengah hutan tropis Asia Tenggara, hidup seekor ular dengan penampilan tak lazim. Sisiknya kasar dan tidak beraturan, tubuhnya gelap, serta punggungnya dipenuhi tonjolan menyerupai zirah. Wujud inilah yang membuatnya dijuluki “ular naga.” Nama ilmiahnya Xenodermus javanicus, spesies langka yang ternyata juga hidup di Indonesia.
Berbeda dari gambaran ular pada umumnya yang licin dan mengilap, Xenodermus justru tampil dengan tekstur kasar. Penampilannya kerap mengingatkan pada makhluk mitologi, meski secara ilmiah ia merupakan reptil nyata yang telah lama dikenal dalam dunia herpetologi.
Spesies Unik Asia Tenggara
Xenodermus javanicus merupakan satu-satunya spesies dalam genus Xenodermus. Ular ini tersebar di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia, keberadaannya dilaporkan di wilayah Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, terutama di kawasan hutan hujan tropis yang lembap.
Ular ini dikenal sebagai satwa nokturnal, aktif pada malam hari dan menghabiskan waktu siangnya bersembunyi di bawah serasah daun, kayu lapuk, atau di sekitar aliran air. Kebiasaan hidup yang tertutup inilah yang membuat Xenodermus jarang terlihat dan relatif kurang dikenal masyarakat.
Tidak Berbisa dan Tidak Agresif
Meski penampilannya terkesan menyeramkan, Xenodermus bukanlah ular berbisa. Menurut para peneliti reptil, spesies ini cenderung pasif dan akan menghindari kontak dengan manusia. Pakan alaminya terdiri dari hewan kecil seperti katak, berudu, dan organisme air berukuran kecil.
“Xenodermus tidak berbahaya bagi manusia.
Justru keberadaannya penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di lingkungan perairan hutan,” ujar sejumlah pemerhati herpetofauna.
Jarang Terdokumentasi
Minimnya dokumentasi membuat Xenodermus kerap luput dari perhatian. Tidak banyak penelitian lapangan yang secara khusus membahas populasi ular ini di Indonesia. Selain karena sulit ditemukan, studi tentang reptil nokturnal memang memerlukan metode khusus dan waktu pengamatan yang panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan Xenodermus mulai kembali diperbincangkan setelah foto dan video penampakannya beredar di media sosial, terutama di kalangan komunitas reptil dan pecinta satwa eksotis.
Ancaman Habitat
Seperti banyak satwa liar lainnya, Xenodermus juga menghadapi ancaman dari kerusakan habitat akibat alih fungsi hutan, pembangunan, serta degradasi lingkungan. Selain itu, ketertarikan pasar terhadap satwa eksotis berpotensi menimbulkan ancaman baru jika tidak diimbangi pengawasan ketat.
Para ahli menilai, perlindungan habitat alami menjadi kunci utama menjaga keberlangsungan spesies ini.
Edukasi publik juga diperlukan agar masyarakat tidak menangkap atau memperdagangkan satwa liar yang seharusnya dilindungi.
Kekayaan Hayati Indonesia
Keberadaan Xenodermus javanicus kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Dari satwa ikonik hingga spesies yang nyaris tak dikenal, kekayaan alam ini menyimpan banyak cerita yang belum sepenuhnya terungkap.
Ular naga mungkin tidak menyemburkan api seperti dalam legenda, tetapi kehadirannya di alam nyata membuktikan bahwa keajaiban alam sering kali lebih menakjubkan daripada mitos.