Enam Tren Nutrisi di 2026, Mulai Ubah Cara Orang Indonesia Menjaga Kesehatan - Viva
Enam Tren Nutrisi di 2026, Mulai Ubah Cara Orang Indonesia Menjaga Kesehatan
Jakarta, VIVA – Cara masyarakat memandang nutrisi dan kesehatan kini mengalami pergeseran besar. Tak lagi sekadar soal diet atau hitung kalori, perhatian mulai mengarah pada pendekatan yang lebih personal, terarah, dan berbasis ilmu pengetahuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan ini tercermin dari kebiasaan belanja, konten persiapan makanan, hingga obrolan seputar olahraga, pemulihan, dan keseimbangan hidup. Di Indonesia sendiri, optimisme terhadap hidup sehat kian menguat. Survei Asia Pacific Health and Economic Empowerment 2025 menunjukkan 86 persen responden di Tanah Air optimistis dapat meningkatkan kesehatan mereka dalam satu tahun ke depan, sementara 58 persen merasa punya kendali dan kepercayaan diri untuk mencapainya. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Melihat tren tersebut, terangkum enam tema besar yang diprediksi akan membentuk pola makan, latihan, dan pemulihan masyarakat sepanjang 2026. Hal ini disampaikan oleh Dr. Krissy Ladner, Director of Sports Performance, Nutrition and Education di Herbalife.
“Tahun 2026 akan dipandu oleh pilihan-pilihan yang mendukung kesehatan pencernaan, pengelolaan stres, kekuatan fisik, kejernihan mental, serta pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan tubuh. Inilah enam tema kesehatan yang akan memengaruhi cara masyarakat makan, berlatih, dan memulihkan diri pada tahun ini," ujar Dr. Krissy Ladner, dalam keterangannya, dikutip Selasa 10 Februari 2026.
Berikut enam tren nutrisi yang diperkirakan akan semakin dominan.
1. Kesehatan Pencernaan Jadi Fondasi Utama
Perhatian terhadap pencernaan kini berada di garis depan gaya hidup sehat. Masyarakat semakin sadar bahwa sistem pencernaan yang optimal berperan besar terhadap energi, rasa kenyang, dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.
Asupan serat dari gandum utuh, kacang-kacangan, sayuran, beri, hingga campuran serat praktis semakin sering dipilih untuk menunjang keteraturan pencernaan dan kestabilan energi harian. Fokus pada nutrisi dasar ini menandai kembalinya kesadaran bahwa kesehatan dimulai dari dalam.
2. Nutrisi untuk Kesehatan Mental dan Stres
Makan bukan lagi hanya soal fisik, tetapi juga mental. Konsumen mulai mengaitkan asupan nutrisi dengan kemampuan mengelola stres, menjaga fokus, dan mempertahankan kejernihan pikiran.
Omega-3, magnesium, vitamin B, kolin, dan antioksidan semakin populer, seiring dengan upaya mengurangi konsumsi alkohol demi tubuh yang lebih segar dan energi yang stabil. Tren ini juga berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas pereda stres seperti yoga, jalan kaki, meditasi, dan olahraga ringan sebagai rutinitas harian.
3. Transparansi Bahan Jadi Kunci Kepercayaan
Aturan makan yang kaku mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, konsumen kini lebih tertarik pada kejelasan bahan dan proses produksi.
Daftar bahan yang mudah dipahami, formulasi yang jelas tujuannya, serta merek yang transparan menjadi faktor utama dalam memilih produk. Minat terhadap makanan minim proses, berbasis pangan utuh dan nabati, juga semakin kuat—terutama di kalangan generasi muda yang mengutamakan kesadaran, bukan kesempurnaan.
4. Nutrisi yang Disesuaikan dengan Tubuh
Pendekatan “satu pola untuk semua” perlahan ditinggalkan. Nutrisi kini semakin dipersonalisasi sesuai kebutuhan individu—mulai dari dukungan hormon, kekuatan tulang, metabolisme, hingga pemulihan tubuh.
Masyarakat menyesuaikan pola makan dan suplemen seiring perubahan usia, aktivitas, dan kondisi tubuh. Personalisasi tidak lagi dianggap eksklusif, melainkan solusi praktis agar tubuh terasa lebih seimbang dan berfungsi optimal.
5. Teknologi Membentuk Kebiasaan Sehat Baru
Teknologi memainkan peran besar dalam membantu masyarakat memahami tubuh mereka sendiri. Aplikasi nutrisi, pelacak tidur, hingga perangkat pemulihan pintar semakin umum digunakan untuk memantau respons tubuh terhadap makanan, stres, dan aktivitas fisik.
Didukung kecerdasan buatan, tes biomarker mandiri, dan perangkat nutrisi personal, konsumen kini bisa menyesuaikan asupan protein, hidrasi, dan mikronutrien berdasarkan data waktu nyata. Pada 2026, teknologi diperkirakan akan semakin menyatu dengan rutinitas wellness harian.
6. Creatine Makin Masuk Arus Utama
Creatine tak lagi identik dengan atlet angkat beban. Suplemen ini kini semakin diterima luas karena manfaatnya dalam meningkatkan kualitas latihan, kekuatan, dan pemulihan otot.
Menariknya, adopsi creatine di kalangan perempuan aktif terus meningkat. Pada 2026, creatine diprediksi tetap menjadi salah satu suplemen berbasis riset yang paling diandalkan untuk mendukung gaya hidup aktif dan konsistensi latihan.