0
News
    Home Featured Kolang-kaling Kuliner Romadhon Sejarah Solo Spesial

    Sejarah Kolang-kaling Hingga Bisa jadi Kuliner Khas Ramadhan di Solo Raya - Tribunsolo

    7 min read

     

    Sejarah Kolang-kaling Hingga Bisa jadi Kuliner Khas Ramadhan di Solo Raya - Tribunsolo.com



    Ringkasan Berita:
    • Kolang-kaling, hasil buah pohon aren (Arenga pinnata), menjadi kudapan khas Ramadhan di Solo, digunakan untuk es buah, kolak, dan manisan karena teksturnya kenyal dan segar.
    • Asal-usulnya terkait tradisi Betawi, diolah dengan pewarna alami saat Lebaran; budaya kuliner ini menyebar ke Solo dan daerah lain.
    • Pasar Gede Solo jadi pusat penjualan kolang-kaling, meningkat 50 persen saat Ramadhan; bahan didatangkan dari Medan, harga sekitar Rp25.000/kg.

    TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Setiap bulan Ramadhan, kolang-kaling hampir selalu hadir di meja berbuka puasa masyarakat Solo Raya, Jawa Tengah.

    Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang segar menjadikannya pelengkap favorit dalam es buah, kolak, hingga manisan di Solo.

    Namun, di balik popularitasnya saat Ramadhan, kolang-kaling menyimpan sejarah panjang yang berakar dari pemanfaatan pohon aren di Nusantara.

    Baca juga: Sejarah Getuk Lindri, Kuliner Jadul yang Sarat Makna, di Klaten jadi Oleh-oleh Legendaris

    Pohon Aren dan Awal Mula Kolang-kaling

    Kolang-kaling berasal dari buah pohon aren (Arenga pinnata), tanaman serbaguna yang sejak lama menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

    Bahkan, pohon aren kerap disebut sebagai pohon terpenting kedua setelah kelapa.

    Daunnya dimanfaatkan sebagai bahan atap rumah, tulang daunnya menjadi sapu lidi, sementara niranya diolah menjadi gula aren.

    Dari buah mudanya inilah kolang-kaling dihasilkan, melalui proses perebusan dan perendaman agar aman dikonsumsi.

    Baca juga: Sejarah Pepes, Kuliner Warisan Leluhur yang Diadaptasi jadi Cabuk Wijen Khas di Wonogiri

    Menurut literatur Kompas.com (31 Maret 2023), pohon aren banyak tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra.

    Kolang-kaling dari Sumatra dikenal berukuran lebih besar, sementara kolang-kaling Jawa, yang banyak beredar di Solo, memiliki tekstur lebih kenyal.

    Pembeli sedang membeli kolang-kaling di salah satu kios yang ada di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (25/3/2023).
    KULINER SOLO - Pembeli sedang membeli kolang-kaling di salah satu kios yang ada di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (25/3/2023). (Tribunsolo.com/Septiana Ayu Lestari)

    Tradisi Betawi dan Jejak Budaya Kolang-kaling

    Dalam khazanah budaya Betawi, kolang-kaling dikenal dengan sebutan buah atep atau beluruk.

    Kuliner ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadhan dan Lebaran di Jakarta.

    Saat Ramadhan, kolang-kaling menjadi pelengkap es campur dan kolak untuk berbuka puasa.

    Sementara saat Lebaran, kolang-kaling disajikan secara khusus tanpa campuran bahan lain, diberi warna putih, hijau, atau merah menggunakan pewarna alami seperti daun suji.

    Baca juga: Sejarah Sosis Solo Kuliner Ikonik Kota Bengawan, Ini Bedanya dengan Risoles dan Lumpia

    Pewarnaan ini menjadi simbol karakter dan keceriaan masyarakat Betawi.

    Tradisi tersebut kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Solo, seiring mobilitas penduduk dan berkembangnya budaya kuliner lintas daerah.

    Mengapa Kolang-kaling Identik dengan Ramadhan?

    Kolang-kaling digemari saat Ramadhan bukan tanpa alasan.

    Kandungan air dan serat yang tinggi membuatnya menyegarkan dan baik untuk pencernaan setelah seharian berpuasa.

    Selain itu, rasanya yang netral memudahkan kolang-kaling dipadukan dengan berbagai bahan manis seperti sirup, santan, dan gula aren.

    Tak heran jika kolang-kaling menjadi salah satu bahan utama takjil favorit, baik di rumah-rumah maupun di pasar tradisional.

    Baca juga: Sejarah Kolak Biji Salak, Takjil Populer di Solo yang Ternyata Ada Kaitan dengan Kisah Nabi Musa AS

    Pasar Gede Solo, Sentra Kolang-kaling Ramadhan

    Di Solo, Pasar Gede Harjonagoro menjadi salah satu pusat penjualan kolang-kaling saat Ramadhan.

    Permintaan biasanya meningkat sejak dua hari menjelang puasa.

    Pedagang kolang-kaling di Pasar Gede, mengatakan penjualan biasanya meningkat hingga 50 persen dibanding hari biasa.

    Harga kolang-kaling di Solo cukup variatif, biasanya Rp 25.000 per kilogram.

    Kolang-kaling ini didatangkan langsung dari Medan, Sumatera Utara, dan dipilih yang kualitasnya bagus untuk masuk ke Solo.

    Namun dalam pemberitaan TribunSolo.com, beberapa penjual kolang-kaling yang ditemui mengakui jika penjualan saat ini tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

    (*)

    Komentar
    Additional JS