0
News
    Home Featured Hipertensi Jantung Kesehatan Puasa Puasa Romadhon Romadhon Spesial Tips & Tricks

    Tips Aman Berpuasa bagi Pengidap Hipertensi dan Penyakit Jantung - NU Online

    3 min read

      

    Tips Aman Berpuasa bagi Pengidap Hipertensi dan Penyakit Jantung

    Jakarta, NU Online

    Puasa Ramadhan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberi jeda metabolisme tubuh. Secara umum, puasa bersifat netral hingga sedikit menurunkan tekanan darah, terutama jika asupan garam dan porsi makan terkontrol. Denyut jantung saat istirahat pun cenderung stabil atau sedikit menurun.


    Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila seseorang kurang tidur, mengalami dehidrasi, mengonsumsi kafein berlebih, atau makan berlebihan saat berbuka.


    Dokter Spesialis Jantung di Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dian Paramita, menjelaskan bahwa penderita hipertensi, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung tetap dapat berpuasa dengan catatan kondisi tubuh stabil serta mengikuti anjuran medis.


    “Yang dimaksud kondisi stabil apabila seseorang tidak merasakan nyeri dada yang progresif, tidak sesak saat istirahat, serta tidak dalam keadaan baru keluar dari rawat inap karena dekompensasi,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (20/2/2026).


    Sebaliknya, pasien disarankan tidak berpuasa atau berkonsultasi ketat dengan dokter apabila mengalami nyeri dada tidak stabil, sesak saat istirahat, pingsan, tekanan darah tidak stabil, aritmia berat, atau penyakit ginjal berat yang rentan menyebabkan dehidrasi.


    Tetap Minum Obat Sesuai Anjuran

    Dian menegaskan, penderita hipertensi, jantung koroner, maupun gagal jantung tetap harus mengonsumsi obat. Penyesuaian dilakukan pada jadwal minum obat, yakni saat sahur dan berbuka, sesuai arahan dokter.


    Untuk obat diuretik seperti furosemid, umumnya lebih aman diminum setelah berbuka guna mencegah dehidrasi dan frekuensi buang air kecil berlebih pada siang hari.


    Apabila muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak berat, pingsan, jantung berdebar disertai lemas, atau tanda dehidrasi berat seperti pusing hebat dan tidak buang air kecil, pasien dianjurkan segera membatalkan puasa dan mendatangi fasilitas kesehatan.


    Atur Pola Makan dan Aktivitas

    Saat berbuka, dianjurkan memulai dengan porsi kecil seperti air putih dan buah atau kurma secukupnya, lalu memberi jeda 10-15 menit sebelum makan utama.


    Prinsip gizi seimbang perlu diterapkan, yakni setengah piring sayur, seperempat piring protein hewani, dan seperempat piring karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau oat. Minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi untuk mencegah lonjakan gula darah.


    Bagi penderita hipertensi dan gagal jantung, makanan tinggi natrium seperti mi instan, makanan olahan, serta kuah atau saus asin perlu dibatasi. Makan berlebihan saat berbuka juga dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, serta memperberat kerja jantung.


    “Pada penderita gagal jantung, kondisi ini bahkan dapat memicu sesak akibat retensi garam dan cairan,” jelasnya.


    Untuk menjaga kebugaran, aktivitas fisik ringan hingga sedang seperti jalan cepat tetap dianjurkan. Waktu yang relatif aman berolahraga adalah satu hingga dua jam setelah berbuka, atau 30-60 menit sebelum berbuka untuk aktivitas ringan, yang dilanjutkan dengan rehidrasi.


    Ia mengingatkan agar menghindari olahraga berat pada siang hari karena berisiko menyebabkan dehidrasi, serta tidak berolahraga intens segera setelah makan besar. “Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan intensitas tinggi,” pungkas Dian.


    Komentar
    Additional JS