Bahaya Overbuying Saat Ramadhan: Dari Dompet Jebol Hingga Penumpukan Limbah Makanan - Republika
Bahaya Overbuying Saat Ramadhan: Dari Dompet Jebol Hingga Penumpukan Limbah Makanan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama Ramadhan, umat Islam dilatih untuk menahan hawa nafsu, tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari berbagai perilaku berlebihan. Dalam praktiknya, tantangan justru kerap muncul dalam bentuk perilaku konsumtif yang tidak disadari, salah satunya overbuying.
Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menilai bahwa Ramadhan kerap menjadi periode rawan terjadinya overbuying karena banyak pelaku usaha yang menawarkan promo besar dan diskon. Menurutnya, belanja berlebih sangat berlawanan dengan esensi puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan.
"Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadhan dan lebih banyak membawa dampak negatif," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (28/2/2026).
la mencontohkan perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa. Berbagai hidangan disiapkan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma. Ujungnya banyak makanan yang tersisa menjadi limbah.

"Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran," kata dia.
Prof Megawati menjelaskan, kondisi lapar setelah seharian berpuasa kerap memicu apa yang disebut "lapar mata". Keinginan untuk membeli banyak makanan muncul bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan emosional sesaat.
Halaman 2 / 5
la menyarankan untuk lebih bijak belanja agar tak mengganggu kekhusyukan ibadah. Prof Megawati juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di media sosial dan e-commerce, yang kerap memicu rasa fear of missing out (FOMO), terutama penjualan melalui live streaming.
la mengingatkan agar tidak mudah terpancing oleh label limited edition atau diskon besar, karena hal tersebut hanyalah strategi pemasaran. "Belanja secukupnya sesuai kebutuhan adalah pilihan yang lebih bijak," kata dia.

Agar nilai Ramadhan tetap terjaga, kata Prof Megawati, masyarakat perlu membekali diri dengan perencanaan keuangan yang baik. Salah satunya dengan membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja dan menahan diri dari pembelian impulsif.
"Jangan sampai lapar mata membuat kita membeli barang-barang yang sebenarnya) tidak dibutuhkan dan bahkan cenderung berlebihan. Perlu diingat, Ramadhan bukan hanya soal konsumsi, tapi momentum untuk berlomba-lomba dalam ibadah, kebaikan dan melatih pengendalian diri," kata dia.
Pada kesempatan berbeda, perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Soetikno mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran selama Ramadhan agar pengeluaran tidak membengkak. Dalam mengelola anggaran bulanan, secara umum bisa menerapkan skema 40/30/20/10 dengan rincian 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen kewajiban seperti cicilan, 20 persen investasi atau tabungan, serta 10 persen untuk alokasi sosial seperti zakat dan donasi.
Halaman 3 / 5
Dalam skema tersebut, membeli takjil termasuk dalam pos kebutuhan pokok. Artinya, pembelian takjil harus disesuaikan dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan, bukan mengikuti keinginan sesaat.
"Memang ya, takjil itu apalagi kalau kita pergi ke bazar Ramadhan bikin ngiler. Tapi kita harus mengontrol jangan sampai malah lapar mata, dan pada akhirnya makanan itu mubazir dan uang terkuras," kata Mike saat dihubungi Republika, Senin (23/2/2026).
Mike menilai fenomena "lapar mata" saat berburu takjil sering kali membuat orang membeli berbagai jenis jajanan dalam jumlah besar. Padahal, kapasitas perut setelah seharian berpuasa terbatas. Akibatnya, saat berbuka puasa, seseorang sudah kenyang oleh makanan manis dan gorengan.
"Kalau terlalu banyak makan takjil nantinya keburu kenyang yang manis-manis. Makanan utama yang lebih bergizi malah tidak termakan dan jadi wasting," kata Mike.

Kondisi ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga meningkatkan sampah makanan. la menekankan pentingnya menerapkan prinsip hidup berkelanjutan dengan meminimalkan makanan terbuang. "Mubadzir juga kan tidak sejalan dengan nilai Islam," kata dia.
Mike menyampaikan, selama Ramadhan pola makan umumnya hanya dua kali sehari yakni saat berbuka puasa dan sahur. Karena itu, takjil seharusnya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan jadwal makan, bukan sekadar jajanan tambahan. la pun menyarankan agar masyarakat mengevaluasi jadwal makan harian.
"Bujet buka puasa bukan cuma soal beli takjil. Harus dilihat sebagai satu kesatuan dengan jadwal makan kita. Jangan sampai jajan takjil membuat anggaran makan bulanan jadi membengkak," kata dia.