Sejarah Kue Lidah Kucing, Kue Sajian Khas Lebaran yang Populer di Solo Raya, - Tribunnews
Sejarah Kue Lidah Kucing, Kue Sajian Khas Lebaran yang Populer di Solo Raya
Kue lidah kucing ini biasa disajikan di momen-momen hari besar, terutama saat perayaan hari raya seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru Imlek.
Ringkasan Berita:
- Kue lidah kucing, kue kering warisan Belanda, populer di Indonesia saat Lebaran, Natal, dan Imlek.
- Asal-usulnya dari Prancis abad ke-17 (langues de chat), dibawa ke Belanda dan menyebar ke Indonesia, beradaptasi dengan selera lokal.
- Kini menjadi suguhan wajib hari raya, renyah, awet, mudah dibuat, dan tersedia dalam berbagai varian rasa seperti mentega, cokelat, dan keju.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada ragam kue kering yang jadi hidangan favorit saat momen Lebaran di Solo Raya, Jawa Tengah.
Salah satu kue kering yang populer adalah kue lidah kucing.
Kue lidah kucing ini biasa disajikan di momen-momen hari besar, terutama saat perayaan hari raya seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru Imlek.
Baca juga: 5 Toko Oleh-oleh di Boyolali Jateng yang Terkenal Murah dan Lengkap, Referensi Libur Lebaran 2026
Selain nastar dan kastengel, kue ini termasuk warisan kuliner Belanda yang tetap digemari hingga kini.
Namun, tahukah Tribuners asal-usul kue ini dan bagaimana perjalanannya hingga menjadi suguhan khas hari raya?
Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Asal-Usul Kue Lidah Kucing
Resep asli kue lidah kucing diyakini berasal dari Prancis pada abad ke-17.
Kue ini dibuat dari bahan sederhana seperti putih telur, tepung gandum, gula, mentega, dan vanila.
Kadang ditambahkan bahan lain untuk varian rasa, misalnya cokelat atau rempah-rempah.
Dalam kuliner Eropa, lidah kucing sering disajikan bersama ganache, krim, atau selai dalam bentuk sandwich, bahkan kadang dicelup cokelat.
Baca juga: Fakta Menarik Rengginang, Cemilan Legendaris Lebaran di Solo Raya, Ternyata Simbol Persatuan
Adonan kue dipanggang menggunakan loyang khusus dengan cekungan tipis dan panjang, disebut langue-de-chat dalam bahasa Prancis.
Cetakan serupa juga digunakan untuk eclairs dan ladyfingers.

Lidah Kucing dan Hari Raya
Kue kering seperti lidah kucing selalu hadir di meja tamu saat hari raya Lebaran, Natal, atau Imlek.
Tradisi ini bermula dari pengenalan kue kering oleh Belanda pada era kolonial.
Pada masa itu, bangsa Eropa dan para priyayi saling mengirimkan makanan pada momen tertentu sebagai simbol status sosial, serta kepentingan politik dan bisnis.
Sebelumnya, masyarakat Indonesia lebih sering menyajikan kue basah yang cepat basi.
Setelah interaksi dengan Belanda, kue kering menjadi populer karena lebih awet, mudah dikirim, dan bisa disimpan berminggu-minggu.
Baca juga: Jejak Sejarah Masjid Sorowaden dan Kisah Kiai Sorowadi, Saksi Bisu Syiar Islam di Klaten
Menyajikan kue seperti lidah kucing saat hari raya pun menjadi cara menunjukkan derajat sosial dan mempercantik meja tamu.
Sejarah Lidah Kucing di Dunia
Kue lidah kucing dikenal di Belanda dengan nama katte tongen, yang berarti "lidah kucing" sesuai bentuknya yang panjang dan tipis.
Kue ini telah menjadi bagian dari kudapan dalam berbagai acara di Belanda.
Selain Belanda, Prancis juga memiliki versi serupa bernama langues de chat.
Di Prancis, kue ini mulai dibuat pada abad ke-17 dan menjadi bagian dari kuliner khas Eropa. Dari Eropa, lidah kucing menyebar ke berbagai wilayah melalui jalur perdagangan dan kolonialisme.
Saat masuk ke Indonesia, resep lidah kucing beradaptasi dengan selera lokal. Dari rasa mentega klasik, kini muncul varian cokelat, keju, bahkan kue warna-warni yang lebih menarik.
Baca juga: Fakta Menarik Kolak Biji Salak, Takjil Populer di Solo Raya yang Dulu Jadi Media Dakwah Wali Songo
Lidah Kucing di Indonesia
Di Indonesia, lidah kucing awalnya menjadi hidangan mewah yang hanya dinikmati pejabat kolonial dan keluarganya.
Namun, seiring waktu, kue ini populer di kalangan masyarakat menengah ke atas karena mudah dibuat, renyah, awet, dan enak.
Nama asli Belanda, katte tongen, perlahan diganti menjadi lidah kucing agar lebih mudah diingat orang Indonesia.
Kini, kue ini menjadi suguhan wajib saat Idul Fitri dan hari raya lainnya, serta sering dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan.
Resep Kue Lidah Kucing
Bagi yang ingin mencoba membuat lidah kucing di rumah, berikut resep sederhana yang bisa dicoba:
Bahan-bahan:
- 2 butir telur
- 100 gram gula pasir
- 125 gram tepung terigu
- 100 gram mentega, lelehkan
- 1/4 sendok teh garam
- 1/4 sendok teh vanili bubuk
Cara Membuat:
- Panaskan oven pada suhu 150°C.
- Kocok telur dan gula pasir hingga mengembang dan berjejak.
- Masukkan tepung terigu, garam, dan vanili bubuk. Aduk rata.
- Tambahkan mentega leleh sedikit-sedikit sambil terus diaduk.
- Masukkan adonan ke plastik segitiga dengan spuit lidah kucing.
- Semprotkan adonan di atas loyang yang sudah dialasi kertas roti dan dioles mentega.
- Panggang selama 10–15 menit hingga matang. Angkat dan dinginkan.
- Lepaskan kue dari kertas roti dan simpan dalam wadah kedap udara.
- Kue lidah kucing siap disajikan dan dinikmati.
(*)