Serangan Jantung pada Pria dan Wanita, Ternyata Gejalanya Berbeda - Liputan6
Serangan Jantung pada Pria dan Wanita, Ternyata Gejalanya Berbeda
Serangan jantung dengan nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri kebanyakan dirasakan pria. Pada wanita, gejala serangan jantung tidak khas
- Apa perbedaan gejala serangan jantung pada pria dan wanita?
- Mengapa gejala serangan jantung pada wanita sering tidak khas?
- Apa saja faktor risiko serangan jantung khusus pada wanita?
Liputan6.com, Bandung - Serangan jantung terhadap seseorang kerap ditandai nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri. Ternyata tanda serangan jantung tersebut kebanyakan terjadi pada pria.
Menurut dokter spesiais jantung dan pembuluh darah, Rachmi Anasthasia Seriulina, menurut panduan medis internasional dari European Society of Cardiology (ESC) dan American Heart Association (AHA), serangan jantung pada wanita sering kali muncul dengan gejala yang tidak khas, sehingga kerap tidak disadari sejak awal.
"Alih-alih nyeri dada, wanita lebih sering mengalami sesak napas mendadak, mudah lelah yang tidak biasa, mual atau muntah, rasa tidak nyaman di ulu hati sering disangka maag, nyeri di punggung, leher, rahang, atau bahu. Keringat dingin dan pusing," terang Anasthasia dicuplik dari laman Rajawali Hospital Bandung, Selasa (24/3/2026).
Anasthasia mengatakan karena gejalanya samar, banyak wanita menganggapnya sebagai masuk angin, kelelahan, stres, atau gangguan pencernaan. Inilah yang membuat serangan jantung pada wanita sering terlambat dikenali.
Di Indonesia, wanita yang datang terlambat ke rumah sakit karena gejala tidak khas memiliki risiko kematian dua kali lebih tinggi daripada pria.
"Serangan jantung pada wanita sering datang dengan 'bisikan', bukan 'teriakan'. Mual, sesak napas, nyeri punggung, atau kelelahan ekstrem bukan 'masalah sepele', itu bisa jadi satu-satunya peringatan sebelum terlambat. Mulai hari ini, ajarkan ibu, istri, saudara perempuan, dan diri Anda sendiri untuk tidak pernah meremehkan gejala atipikal," kata Anasthasia.
Mencegah Serangan Jantung
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5215586/original/034664700_1746859966-Cek_tekanan_darah.jpg)
Anasthasia menjelaskan serangan jantung dapat dicegah dengan kesadaran, gaya hidup sehat, dan pemeriksaan rutin.
Mengenali risiko dan gejala khas pada wanita adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung.
"Pencegahan serangan jantung khusus wanita dapat dilakukan dengan cek tekanan darah, gula darah, kolesterol mulai usia 40 tahun. Olahraga 150 menit/minggu dengan intensitas sedang. Berhenti merokok total," sebut Anasthasia.
Selain itu menjaga berat badan dengan tetap mempertahankan lingkar pinggang kurang dari 80 cm. Ditambah mengonsumsi makanan seimbang rendah lemak jenuh dan tinggi serat.
Faktor Perbedaan Serangan Jantung Terhadap Pria dan Wanita
Pada pria, serangan jantung lebih sering muncul dengan gejala khas, sehingga relatif lebih mudah dikenali seperti nyeri dada berat seperti ditekan, diremas, atau ditindih, nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, muncul keringat dingin, sesak napas serta mual atau muntah.
Sedangkan gejala serangan jantung terhadap wanita kerap menunjukkan tanda yang lebih samar dan tidak khas. Anasthasia menyebut perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor biologis penting:
1. Ukuran dan Distribusi Pembuluh Darah Koroner
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terganggu. Pada pria, gangguan ini biasanya terjadi karena sumbatan pembuluh darah jantung besar, sehingga menimbulkan nyeri dada yang jelas.
Pada wanita, gangguannya sering terjadi di pembuluh darah kecil jantung atau berupa penyempitan ringan yang menyebar. Akibatnya, rasa sakit tidak selalu terasa sebagai nyeri dada berat, melainkan keluhan lain yang tidak spesifik.
2. Peran Hormon Estrogen
Estrogen memiliki peran penting dalam melindungi jantung dan pembuluh darah, terutama pada usia muda hingga masa menopause. Sebelum menopause, estrogen membantu menjaga pembuluh darah tetap lentur dan tidak mudah rusak dengan cara membuat pembuluh darah dapat melebar dengan baik sehingga aliran darah menjadi lebih lancar.
Selain itu, hormon ini berperan menjaga lapisan dalam pembuluh darah agar tetap sehat dan tidak mudah mengalami peradangan, serta mengurangi kecenderungan penumpukan lemak yang dapat membentuk plak.
Melalui mekanisme inilah proses aterosklerosis pada wanita usia subur umumnya berlangsung lebih lambat dibandingkan pada pria. Setelah menopause, kadar estrogen dalam tubuh menurun secara tajam sehingga pembuluh darah menjadi lebih kaku, peradangan lebih mudah terjadi, dan penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah berlangsung lebih cepat.
"Kondisi inilah yang menyebabkan risiko aterosklerosis dan penyakit jantung pada wanita meningkat secara signifikan setelah menopause," tutur Anasthasia.
3. Perbedaan Ambang Nyeri dan Respons Stress
Menurut American Heart Association (AHA), ambang nyeri wanita justru cenderung lebih rendah, tetapi cara nyeri diproses oleh otak berbeda dibandingkan pria.
Sistem saraf wanita lebih sensitif terhadap nyeri viseral (nyeri dari organ dalam) dan lebih banyak melibatkan area otak yang berhubungan dengan emosi dan stress.
"Hal ini yang menyebabkan wanita lebih sering mengeluhkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Gelisah atau rasa tidak enak badan yang menyeluruh. Nyeri yang datang dan pergi, bukan terus-menerus," ungkap Anasthasia.
Menurut American Heart Association 2024, hanya 54 persen wanita yang menyadari bahwa gejala mereka adalah serangan jantung, dibandingkan 80 persen pria.
Faktor Risiko dan Langkah Darurat
Selain faktor klasik seperti hipertensi, diabetes, merokok, dan dislipidemia, wanita memiliki faktor risiko khusus yang meningkatkan risiko serangan jantung, sering kali kurang disadari.
"Diantaranya seperti menopause atau risiko melonjak setelah estrogen turun. Diabetes sehingga gejala sering tersembunyi. Stres dan depresi mengalami risiko dua kali lebih tinggi, merokok berefek lebih berat pada wanita, menderita penyakit automiun serta riwayat preeklamsia atau diabetes saat kehamilan," tutur Anasthasia.
Anasthasia mengingatkan serangan jantung bisa terjadi tetiba dan sering kali tidak terduga. Penanganan yang cepat dan tepat sangat menentukan keselamatan dan nyawa seseorang.
Karena itu, penting bagi siapa pun untuk mengetahui tanda-tandanya dan langkah darurat yang harus dilakukan. Jika anda atau orang di sekitar menunjukkan tanda-tanda mencurigakan jangan menunggu keluhan mereda.
"Segera lakukan langkah pertolongan awal berikut sambil menunggu bantuan medis dengan menghentikan semua aktivitas, jangan terus berjalan, jangan menyetir. Segera duduk atau berbaring dengan posisi setengah duduk untuk membantu aliran darah ke jantung tetap optimal," imbau Anasthasia.
Selain itu, segera menghubungi layanan darurat 112 atau memanggil bantuan terdekat. Serangan jantung membutuhkan penanganan di rumah sakit dengan fasilitas EKG dan obat pembuka pembuluh darah secepatnya.
Anasthasia menyarankan segera memintaorang di sekitar untuk membantu menghubungi fasilitas layanan kesehatan bila anda yang sakit.
"Longgarkan pakaian dan pastikan udara segar. Buka kerah baju, lepaskan dasi, dan posisikan diri di area berventilasi baik untuk membantu pernapasan lebih lega. Jangan makan atau minum apa pun," sebut Anasthasia.
Jika kondisi memburuk dan membutuhkan tindakan medis segera, lambung harus dalam keadaan kosong untuk mencegah risiko tersedak.
Bila pasien tidak bernapas dan tidak merespons, mulai resusitasi jantung paru (CPR) jika Anda terlatih hingga bantuan medis datang.