Air Jernih Tak Selalu Sehat! Fakta Tersembunyi yang Ancam Tumbuh Kembang Anak - Viva
Jakarta, VIVA – Di banyak keluarga Indonesia, air sering dianggap aman selama tampak jernih, dingin, dan tidak berbau. Namun, pandangan tersebut kini mulai dipertanyakan.
Sejumlah temuan ilmiah terbaru mengungkap bahwa kualitas air memiliki peran krusial dalam kesehatan, terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Scroll lebih lanjut yuk!
Sebuah kajian ilmiah yang dimuat dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH, 2026) menyoroti hubungan erat antara kualitas air minum dan risiko stunting. Penelitian yang dilakukan oleh Tria Rosemiarti, Diana Sunardi, dan Netta Meridianti Putri ini menganalisis 15 studi dari berbagai negara dalam rentang 15 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan bakteri Escherichia coli dalam air dapat meningkatkan risiko stunting pada anak hingga lebih dari empat kali lipat.
Air Bersih Secara Visual Bisa Menipu
Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa kontaminasi tidak selalu berasal dari sumber air. Justru, pencemaran sering terjadi saat air sudah berada di rumah, seperti ketika disimpan dalam wadah, didinginkan, atau digunakan untuk menyiapkan makanan anak. Beberapa studi bahkan menemukan bahwa air yang tampak bersih ternyata mengandung bakteri berbahaya dalam jumlah signifikan.
"Kondisi ini menegaskan bahwa indikator visual saja tidak cukup untuk menentukan keamanan air minum. Akses terhadap air yang dianggap “layak” belum tentu menjamin air tersebut benar-benar aman dikonsumsi," kata Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSCM, dalam keterangannya.
Gangguan Tersembunyi pada Sistem Pencernaan
Selain risiko infeksi, penelitian ini juga mengungkap mekanisme lain yang jarang diketahui, yaitu Environmental Enteric Dysfunction (EED). Kondisi ini merupakan gangguan kronis pada usus akibat paparan kuman yang terus-menerus, menyebabkan peradangan ringan dan menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi.
Yang mengejutkan, EED sering terjadi tanpa gejala seperti diare. Akibatnya, anak tetap terlihat sehat, tetapi pertumbuhannya terhambat karena nutrisi tidak terserap optimal. Hal ini menjadi salah satu penjelasan mengapa masih banyak anak mengalami stunting meskipun telah mendapatkan asupan makanan yang cukup.
Pengaruh pada Kecerdasan Anak
Dampak kualitas air tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak. Sejumlah penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan bahasa dan daya ingat yang lebih baik jika selama masa kehamilan, ibu mengonsumsi air yang aman.
Artinya, kualitas air berperan dalam mendukung kemampuan belajar, memori, dan adaptasi anak di lingkungan pendidikan.
Periode Paling Rentan: 6–24 Bulan
Masa usia 6 hingga 24 bulan menjadi fase paling kritis. Pada periode ini, anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), yang meningkatkan penggunaan air dalam proses penyajian makanan. Jika air yang digunakan tidak higienis, risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan akan meningkat secara signifikan dan bisa berdampak jangka panjang.
Pendekatan Menyeluruh Lebih Efektif
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa memperbaiki kualitas air saja tidak cukup. Paparan kuman bisa berasal dari berbagai sumber lain, seperti tangan, peralatan makan, lantai, hingga lingkungan rumah secara keseluruhan.
Karena itu, solusi yang lebih efektif adalah pendekatan terpadu, mencakup akses air aman, sanitasi yang baik, kebiasaan hidup bersih, serta asupan gizi seimbang. Upaya pencegahan stunting pun perlu dirancang secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada satu aspek saja.
Tantangan di Indonesia
Di Indonesia, akses terhadap air layak memang terus meningkat. Namun, kualitas air di tingkat rumah tangga masih menjadi tantangan, terutama pada tahap penyimpanan dan penggunaan. Bahkan di wilayah perkotaan, air yang awalnya aman bisa terkontaminasi sebelum dikonsumsi.
Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi kepada masyarakat, mulai dari cara menyimpan air dengan benar, menjaga kebersihan wadah, hingga kebiasaan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan.
Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan
Untuk menjaga kualitas air tetap aman, beberapa langkah sederhana dapat diterapkan di rumah:
- Gunakan wadah penyimpanan yang bersih dan tertutup
- Rutin mencuci tempat air dan peralatan makan anak
- Biasakan mencuci tangan sebelum mengolah makanan
- Pastikan air yang digunakan untuk MPASI benar-benar aman