0
News
    Home Berita Campak Featured Kesehatan Spesial

    Dokter Ungkap Pemicu Orang Dewasa Rentan Kena Campak Gejala Berat - detik

    7 min read

     

    Dokter Ungkap Pemicu Orang Dewasa Rentan Kena Campak Gejala Berat

    Foto ilustrasi: iStock
    Jakarta -

    Penyakit campak umumnya lebih banyak menyerang anak-anak. Namun, kelompok dewasa juga memiliki risiko penularan yang sama terlebih saat imunitas menurun.

    Bahkan, berpotensi memicu gejala berat hingga membutuhkan masa perawatan yang jauh lebih lama.

    Apa pemicunya?

    Kondisi ini berkaitan erat dengan gaya hidup modern kaum urban, yang tanpa disadari memicu penurunan sistem kekebalan tubuh secara drastis. Ditambah lagi hilangnya perlindungan antibodi alami seiring berjalannya waktu.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD K-A.I FINASIM mengatakan banyak pekerja kantoran atau kalangan profesional muda yang mengabaikan waktu istirahat, demi mengejar produktivitas.

    "Kita banyak menemukan orang dewasa muda, eksekutif-eksekutif muda, yang suka lembur," kata dr Sukamto dalam konferensi pers campak di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).

    "Habis lembur, ke kafe-kafe. Tidurnya kurang. Itu sel limfositnya turun rendah," tambahnya.

    Limfosit merupakan salah satu jenis sel darah putih atau leukosit, yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi virus, bakteri, racun, dan sel kanker.

    Tanpa disadari, kebiasaan buruk inilah yang membuka pintu masuk bagi penyakit infeksius, termasuk campak, di tengah padatnya interaksi sosial.

    Kekebalan Alami Tak Selalu Bertahan Seumur Hidup

    Banyak orang dewasa yang merasa percaya diri sudah sepenuhnya kebal dari virus campak hanya karena pernah mendapatkan suntikan vaksin saat masih kanak-kanak.

    Namun, dr Sukamto menegaskan bahwa efektivitas perlindungan dari vaksin tidak selalu bisa bertahan seumur hidup.

    "Ada warning immunity. Antibodi itu menurun setelah 15-20 tahun pasca-vaksinasi," bebernya.

    Penurunan kekebalan ini membuat tubuh perlahan kembali rapuh terhadap paparan virus dari lingkungan sekitar, termasuk campak.

    Selain itu, prosedur pengobatan penyakit tertentu di usia dewasa juga berperan besar terhadap menurunnya daya tahan tubuh.

    "Ada keadaan-keadaan tertentu, seperti misalnya seseorang yang kemudian harus menjalani kempoterapi. Itu daya tahan tubuhnya akan turun," ucap dr Sukamto.

    Adanya Risiko Komplikasi

    Ketika virus campak berhasil menembus pertahanan tubuh dan menginfeksi orang dewasa, dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana gejala demam dan ruam pada anak-anak.

    Menurut dr Sukamto, kondisi fisik orang dewasa sering kali merespons infeksi ini degan tingkat keparahan yang lebih ekstrem.

    "Pada orang dewasa, kalau tidak terkena campak, biasanya lebih berat dan perlu perawatan, serta komplikasinya biasanya lebih banyak," jelas dia.

    Terlebih jika virus tersebut dapat merusak sistem memori kekebalan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya.

    "Ada komplikasi serius campak. Ada pneumonia, ada ensefalitis atau radang otak. Ada immune amnesia, jadi menghapus memori imun sehingga menjadi rentan infeksi lain," tambah dr Sukamto.

    Pentingnya Vaksinasi Tambahan

    Melihat tingginya ancaman dan besarnya risiko komplikasi penyerta, langkah preventif berupa intervensi medis tambahan menjadi sangat penting.

    dr Sukamto mengungkapkan pemberian dosis penguat atau booster bukan sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan mendesak bagi orang dewasa. Suntikan booster ini diyakini mampu menghidupkan kembali memori seluler tubuh untuk melawan patogen dengan cepat.

    "Jadi, vaksin campak pada dewasa bukan hanya perlu, tetapi sangat perlu. Dikatakan bahwa dua dosis itu akan meningkatkan efektivitas dibandingkan dengan satu dosis," pungkasnya.

    (sao/naf)

    Komentar
    Additional JS