Biji Kelor Efektif Menghilangkan Mikroplastik dalam Air - Tirto
Biji Kelor Efektif Menghilangkan Mikroplastik dalam Air
tirto.id - Dunia tak selebar daun kelor.
Pepatah itu kerap dipakai untuk menenangkan seseorang yang merasa kecil atas dirinya sendiri. Bahwasanya dunia tak sekecil dan serapuh daun tersebut. Padahal, kenyataannya justru berbalik. Meski daunnya kecil, pohon kelor menghadirkan dunia manfaat yang luas.
Di Nusantara, kelor tumbuh di mana-mana. Di pekarangan desa, di pagar ladang, bahkan di lereng berbatu yang kering. Ia tahan banting menghadapi kemarau dan tidak pilih-pilih tanah.
Daun kelor sejak lama menjadi penopang pangan dan obat tradisional. Ia menyimpan protein nabati, kalsium, zat besi, dan antioksidan. Organisasi kesehatan dunia pun mengakui kelor sebagai penyelamat dari malnutrisi, terutama bagi bayi dan balita di negara berkembang. Kelor juga termasuk benteng pertama daya tahan tubuh.
Selain menjadi penopang gizi, temuan terbaru menyebut bahwa daun kelor berguna sebagai penjaga alam. Ia berperan membantu mengikat mikroplastik dalam air.
Keajaiban Pengikat Mikroplastik
Dunia kini menghadapi ancaman mikroplastik yang tak terlihat mata telanjang, tetapi meresap ke setiap sudut kehidupan manusia. Fragmen plastik yang terurai menjadi partikel renik tersebut menyusup ke tanah, laut, udara, bahkan ke dalam gelas air minum kita.
Di tengah darurat mikropastik seperti itu, pohon kelor menawarkan solusi. Ekstrak bijinya terbukti mampu menyaring lebih dari 98 persen mikroplastik dari air keran. Bukti ilmiah tersebut datang dari studi yang terbit pada 19 Januari 2026 di jurnal ACS Omega.
Penelitian yang dipimpin Profesor Adriano Gonçalves dos Reis dari São Paulo State University, Brasil, menunjukkan bahwa ekstrak saline biji kelor (MOS-SE) dapat bekerja sebagai koagulan—zat kimia yang berfungsi menggumpalkan partikel-partikel kecil atau kotoran dalam air—yang ramah lingkungan. Pendekatan itu menjadi alternatif dari garam aluminium sulfat (alum), bahan kimia sintetis yang selama ini mendominasi pengolahan air minum di dunia.
Alum memang efektif. Namun, di sisi lain, ia meninggalkan residu aluminium berbahaya, menghasilkan lumpur beracun, dan menambah biaya operasional.
“Satu-satunya kelemahan yang ditemukan sejauh ini mengenai aluminium sulfat adalah peningkatan bahan organik terlarut, yang penghilangannya dapat membuat prosesnya lebih mahal. Namun, dalam skala kecil, seperti pada properti pedesaan dan komunitas kecil, metode ini dapat digunakan dengan biaya yang efektif dan efisien,” ujar Adriano Gonçalves dos Reis, dikutip dari buletin Yayasan Penelitian São Paulo.
Penelitian tersebut membeberkan keunggulan kelor yang terletak pada mekanisme mikroskopis. Protein bermuatan positif yang terdapat dalam biji kelor bersifat sangat stabil saat berada dalam kondisi basa, yaitu pada pH sekitar 10–11. Di dalam air, protein tersebut bertindak sebagai perekat alami.
Mikroplastik seperti polivinil klorida—cenderung bermuatan negatif—biasanya saling tolak-menolak, membuatnya tetap melayang di air.
Begitu kelor masuk, muatan positif proteinnya menetralkan partikel plastik tersebut, memaksa partikel renik tersebut menggumpal dan tenggelam. Efek itu terlihat jelas dari pergeseran potensi zeta air, dari minus 29,9 milivolt menuju minus 13,5 milivolt. Intinya, gaya tolak-menolak telah rusak.
Setelah itu, hukum fisika klasik mengambil alih prosesnya. Teori Derjaguin-Landau-Verwey-Overbeek (DLVO) menjelaskan bahwa hambatan energi yang melemah membuka jalan bagi gaya London-van der Waals forces (FvdW). Mekanisme tersebut memaksa mikroplastik, yang tadinya saling menjauh, berubah saling menempel, lalu menggumpal menjadi bola koloid mikroskopis.
Gumpalan plastik yang disebut flok tumbuh dari ukuran sub-mikron menjadi puluhan mikrometer. Partikel yang semula lolos dari pori-pori pasir kini terjebak. Dalam sistem filtrasi langsung, flok akan tersangkut di media atau mengendap ke dasar tangki sehingga polimer berbahaya tersingkir.
Protein kelor dengan sigap bekerja instan tanpa perlu tahap pengadukan lambat yang biasanya menyedot energi besar.

Data kuantitatif memperkuat bukti penelitian tersebut. Dengan dosis 30 miligram per liter, ekstrak biji kelor mampu menghapus 98,5 persen mikroplastik Aged-PVC dari air uji. Angka pencapaian tersebut hampir setara dengan alum sintetis yang mencatat 98,7 persen pada dosis lebih rendah. Selain itu, kejernihan fisik meningkat drastis; turbiditas alias kekeruhan hilang hingga 99,4 persen.
Kelor juga unggul dalam fleksibilitas. Alum hanya efektif pada pH 5-7, sedangkan kelor tetap bekerja di rentang lebih luas, dari asam hingga basa. Pada pH 8, alum gagal total, sementara protein kelor tetap perkasa.
Meski meninggalkan sedikit residu organik, ekstrak kelor menebusnya dengan menurunkan indeks penyerapan ultraviolet spesifik (SUVA) hingga 88 persen, menandakan keberhasilan menyingkirkan senyawa aromatik berbahaya.
Bukti Penelitian Sebelumnya
Jika menelusuri jejak penelitian ekologi beberapa tahun ke belakang, capaian kelor pada studi terbitan awal 2026 itu merupakan lompatan besar dari studi-studi sebelumnya. Sejak polusi mikroplastik menjadi perhatian utama PBB, para ilmuwan mulai membedah potensi kelor sebagai senjata nabati.
Pada 2024, uji coba yang dipublikasikan di jurnal Cleaner Water menunjukkan, ekstrak biji kelor mampu menghilangkan sekitar 86,99 persen mikroplastik. Para peneliti dari India tersebut menguji dua bahan alami, yakni biji kelor dan biji labu air (Benincasa hispida).
Cara kerjanya sama, membuat mikroplastik menggumpal supaya mudah disaring atau mengendap. Adapun biji labu air mampu menghilangkan sekitar 83-84 persen mikroplastik.
Setahun kemudian, riset dari jurnal Water Conservation Science and Engineering (2025) mencoba mengoptimalkan jumlah biji kelor yang dipakai, tingkat keasaman air (pH), dan waktu pengendapan.
Dengan dosis sekitar 109,25 mg per liter, kelor mampu menghilangkan 84,3 persen mikroplastik dalam waktu pengendapan 85,86 menit. Mikroplastik yang diuji berasal dari cangkir kertas sekali pakai.
Penurunan persentase tersebut terjadi karena fokus daya serapnya terpecah sehingga efisiensi tidak meningkat. Hal itu juga menunjukkan betapa rumitnya memanipulasi protein kelor agar tetap efektif menghadapi variasi ionik dalam air limbah.
Penelitian lama biasanya menggunakan metode penggumpalan dan pengendapan (coagulation-flocculation-sedimentation). Sementara itu, penelitian terbaru 2026, yang efektivitasnya terbukti mencapai 98,5 persen, menggunakan filtrasi langsung (in-line filtration), ditambah ekstrak biji kelor yang lebih murni dan pengukuran lebih akurat dengan mikroskop elektron (SEM). Jenis mikroplastik, dosis, dan kondisi air, juga berbeda.
Di Indonesia, temuan-temuan semacam itu membuka jalan revolusi kesehatan publik dan ekologi. Desa-desa terpencil bisa memanfaatkan pohon kelor di pekarangan sebagai pabrik penjernih air mandiri, bebas dari ketergantungan pada rantai pasok kaporit dan tawas yang mahal serta berbahaya.
Pada akhirnya, dunia memang tidak selebar daun kelor, tetapi dunia yang bersih dan sehat justru bergantung pada keajaiban yang ditawarkan pohon ini.
tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin