Dari Earl Grey sampai Pistachio, Kreasi Minuman Cokelat Ini Lagi Naik Daun - Viva
Dari Earl Grey sampai Pistachio, Kreasi Minuman Cokelat Ini Lagi Naik Daun
Jakarta, VIVA – Minuman berbasis cokelat kini semakin berkembang dan tak lagi identik dengan rasa klasik yang manis dan sederhana. Berbagai kreasi baru mulai bermunculan, memadukan cokelat dengan teh, kacang pistachio, hingga teknik plating ala kafe premium yang ramai dibagikan di media sosial.
Baca Juga
Tren ini juga ikut mendorong meningkatnya minat terhadap kakao lokal Indonesia yang dinilai memiliki kualitas dan karakter rasa khas. Scroll untuk info lebih lanjut...
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fenomena tersebut terlihat dalam Workshop 'Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah' yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan di SMESCO Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature melalui sesi edukasi, chocolate tasting, hingga praktik langsung membuat minuman cokelat berbasis kakao Indonesia.
Baca Juga
Dalam workshop itu, peserta diperkenalkan pada berbagai jenis kakao Indonesia sekaligus tren minuman cokelat yang saat ini berkembang di industri makanan dan minuman. Selain mencicipi produk cokelat, peserta juga mempraktikkan langsung teknik pembuatan minuman dengan tampilan berlapis yang banyak ditemukan di kafe dan hotel.
Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, mengatakan ketertarikannya pada dunia kakao bermula dari besarnya potensi cokelat Indonesia yang dinilai belum banyak dikenal luas.
Baca Juga
“Kami benar-benar jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami fokus membuat produk, lalu berkembang mempelajari kakao dari hulunya,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menuturkan, Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun, citra cokelat premium justru lebih banyak melekat pada negara-negara Eropa.
“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” katanya.
Dalam sesi edukasi, Nugroho menjelaskan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario.
![]()
Menurutnya, varietas criollo atau Java Criollo termasuk jenis kakao premium dengan karakter aroma yang kuat dan jumlah yang terbatas. “Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi,” jelasnya.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan fine flavor cocoa apabila proses pascapanen seperti fermentasi dan pengeringan dilakukan dengan baik. “Kelebihan Indonesia adalah kita punya varietas kakao yang jika diolah dengan baik bisa menjadi fine flavor cocoa,” katanya.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik membuat minuman Earl Grey Criollo Chocolate dan Pistachio Criollo Chocolate. Pada menu pertama, cokelat criollo dipadukan dengan teh Earl Grey untuk menghasilkan rasa yang lebih kompleks.
“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana yang memandu sesi mixology.
Sementara itu, menu Pistachio Criollo Chocolate terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang belakangan ramai di media sosial. Peserta diajak mencoba teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan layer minuman, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian minuman yang dinilai memengaruhi tampilan akhir produk. “Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” jelas Shana.
Ia mengatakan detail penyajian menjadi salah satu alasan minuman di kafe dan hotel memiliki nilai jual lebih tinggi. “Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” katanya.
Selain kakao, workshop itu juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit dalam minuman cokelat. Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, mengaku tertarik dengan bahan tersebut karena menghasilkan tekstur creamy yang berbeda.
“Biasanya kami menggunakan non-dairy creamer berbahan singkong. Ternyata yang berbahan sawit ini juga enak dan bisa dikembangkan,” katanya.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan pihaknya ingin kegiatan semacam ini bisa membuka peluang baru bagi generasi muda maupun pelaku UMKM berbasis komoditas perkebunan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh kami untuk pengembangan UMKM,” katanya.
Ia juga berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mengembangkan usaha berbasis kakao dan komoditas perkebunan lainnya.
![]()
Kenalan dengan Footgolf, Tren Olahraga Hybrid untuk Bantu Bakar Kalori
Footgolf mulai dilirik anak muda sebagai olahraga hybrid yang memadukan sepak bola dan golf. Simak cara bermain hingga tren active lifestyle terbaru. Baca di sini

VIVA.co.id
21 Mei 2026