Hoaks, Vaksin MMR Sebabkan Autisme pada Anak - Tirto
Hoaks, Vaksin MMR Sebabkan Autisme pada Anak
tirto.id - Narasi negatif tentang imunisasi terus beredar di media sosial. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) dapat menyebabkan autisme bagi anak.
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
Unggahan itu berbunyi:
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Penelusuran Fakta
Perlu diketahui, melansir National Library of Medicine campak adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus campak, terutama menyerang sistem pernapasan dan ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis, dan ruam yang khas.
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto