Kasus DBD di Indonesia Turun, Warga Diminta Tetap Galakkan Gerakan 3M Plus dan Vaksinasi - Tribunnews
Kasus DBD di Indonesia Turun, Warga Diminta Tetap Galakkan Gerakan 3M Plus dan Vaksinasi

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA--Kasus kematian akibat penyakit demam berdarah (DBD/Dengue) di Indonesia pada tahun 2023 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Meski demikian hal tersebut tidak boleh membuat lengah mengingat Indonesia adalah daerah endemik demam berdarah.
Pemerintah Indonesia bekerja keras mewujudkan nol kasus kematian akibat DBD pada tahun 20230 sesuai dengan target organisasi kesehatan dunia WHO.
Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, rerata kasus DBD di Indonesia mencapai sekitar 105.763 kasus dengan rerata kematian 815 kasus.
Di tahun 2023, angka kasus dan kematian akibat DBD mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 2022 dimana total kumulatif DBD tercatat 143.266 kasus dengan kematian 1.236 kasus.
Baca juga: Kasus DBD Meningkat, Dinkes Tangsel Minta Masyarakat Lakukan Pencegahan
“Tahun lalu (2023), tercatat total kasus DBD di Indonesia sebesar 114.435 kasus dengan kematian 894 kasus. Dunia saat ini menargetkan nol kematian pada tahun 2030," kata dr Asik Surya, MPPM, Ketua Tim Kerja Arbovirus, dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI.
Dia menjelaskan, hal tersebut tidak terlepas dari langkah-langkah intervensi yang telah dilakukan oleh Pemerintah untuk menekan kasus DBD.
Secara garis besar terdapat tiga intervensi yaitu intervensi pada lingkungan, intervensi pada vektor (nyamuk), dan intervensi pada manusia.
Intervensi pada lingkungan dapat dilakukan melalui pemberantasan sarang nyamuk, sedangkan intervensi pada vektor dilakukan melalui penggunakan larvasida serta insektisida yang digunakan untuk fogging.
"Untuk intervensi pada manusia, dilakukan dengan cara intervensi inovatif melalui vaksinasi.
Pemerintah terus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait dalam melakukan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat tentang pentingnya perlindungan yang komprehensif terhadap DBD, termasuk melalui Kampanye #Ayo3MPlusVaksinDBD,” tutur dr Asik dalam Talkshow "Langkah Bersama Cegah DBD” goes to Surabaya yang diinisiasi oleh PT Takeda Innovative Medicines.
Baca juga: Waspada Kasus DBD Naik, Dinkes DKI Imbau Warga Lakukan PSN 3M, DPRD Kabupaten Bogor Gelar Fogging
Pada tahun 2023 Jawa Timur menjadi provinsi ketiga dengan kasus DBD tertinggi se-Indonesia dengan 9.401 kasus dan kematian sebanyak 103 kasus.
Kepada Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraeni, M. Kes menyebutkan upaya pencegahan DBD di Jawa Timur dilakukan dengan program pengendalian penyakit berbasis masyarakat yaitu PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di lingkungan lewat Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.
“Program PSN dengan 3M Plus memang masih efektif, namun tidak kalah pentingnya adalah mengenali gejala penyakit sehingga tidak terlambat mendapat pertolongan medis.
Semua orang bisa terinfeksi DBD, tanpa memandang usia, di mana mereka tinggal, dan gaya hidup.
Jadi jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala DBD, seperti demam mendadak tinggi, nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot, atau muncul bintik-bintik kemerahan di kulit, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Jadi penting bagi masyarakat untuk selalu mengedepankan 3M Plus, serta mempertimbangkan pencegahan inovatif seperti vaksin,” papar drg Sulvy dalam keterangannya Sabtu (2/3/2024).
Baca juga: Kasus DBD di RSUD Tamansari Naik, Lima Anak dan Tiga Orang Dewasa Harus Dirujuk ke RS Lain
Pada kesempatan yang sama Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan apresiasi atas komitmen yang diberikan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk bersama-sama memerangi DBD di Indonesia.
“Permasalahan dengue, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Diperlukan sinergi yang kuat antara seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk peran aktif masyarakat.
Kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna mendorong kesadaran masyarakat akan bahaya dengue dan juga pentingnya pencegahan yang inovatif untuk melindungi masyarakat luas yang berisiko terkena dengue.
Melalui kegiatan ‘Langkah Bersama Cegah DBD’ kami berharap dapat melibatkan lebih banyak masyarakat dalam memerangi DBD.
Harapannya target pemerintah untuk mencapai ‘nol kematian akibat dengue’ pada tahun 2030 tercapai,” jelas Andreas.
Baca juga: Dukung Nol Kematian Akibat DBD 2030, Takeda Gandeng Biological E Produksi 100 Juta Vaksin
Sementara itu dokter spesialis anak Dini Adityarini menuturkan pada dasarnya, virus dengue dapat menginfeksi siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Tetapi pada anak-anak, DBD memiliki risiko yang jauh lebih tinggi, termasuk menyebabkan kematian.
"Pada tahun 2022, dari seluruh kelompok usia, 48 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Ikatan Dokter Anak Indonesia kemudian merekomendasikan penggunaan vaksin DBD, yang memiliki tingkat keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik, pada anak-anak guna menurunkan risiko keparahan penyakit dan menurunkan risiko rawat inap," kata Dini.