0
News
    Home Featured Spesial Tips & Tricks Ular Ular Gibug

    Apakah Ular Tanah Berbahaya? Mengenal Fakta Ilmiah Ular Gibug di Asia Tenggara - Liputan6

    8 min read

     

    Apakah Ular Tanah Berbahaya? Mengenal Fakta Ilmiah Ular Gibug di Asia Tenggara

    Sering ditemukan di sekitar pemukiman, banyak yang bertanya apakah ular tanah berbahaya? Simak fakta ilmiah tentang bisa, perilaku, dan pertolongan pertama gigitan ular mematikan ini.

    oleh Fitriyani Puspa SamodraDiterbitkan 25 Desember 2025, 06:20 WIB
    Share
    Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) (Wikimedia Commons)
    Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) (Wikimedia Commons)

    Liputan6.com, Jakarta - Ular tanah kerap menjadi hewan yang memicu ketakutan masyarakat, terutama karena sering dijumpai di area kebun, ladang, atau sekitar permukiman. Bentuk tubuhnya yang gemuk dan warna tubuhnya yang menyerupai daun kering membuatnya sulit dikenali, sehingga tak jarang manusia baru menyadari kehadirannya ketika jarak sudah terlalu dekat.

    Di Indonesia, ular tanah sering dikenal dengan nama ular gibug. Meski tidak sebesar ular piton atau kobra, reputasinya sebagai ular berbisa membuat banyak orang bertanya-tanya tentang tingkat bahayanya bagi manusia.

    BACA JUGA:

    Lalu sebenarnya, apakah ular tanah berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menelaah karakter biologis, jenis bisa, perilaku, serta data medis dari penelitian ilmiah mengenai ular tanah atau Calloselasma rhodostoma. Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (24/12/2025).

    Mengenal Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)

    Waspada, Ini 3 Jenis Ular yang Sering Ditemukan di Rumah
    (Foto: Merdeka) Ular Tanah.

    Ular tanah atau ular gibug memiliki nama ilmiah Calloselasma rhodostoma. Spesies ini merupakan satu-satunya anggota dalam genus Calloselasma (monotipik) dan termasuk kelompok ular berbisa dari famili Viperidae atau bandotan berdekik. Ular ini endemik Asia Tenggara, dengan sebaran meliputi Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia bagian barat, dan Pulau Jawa di Indonesia.

    Secara morfologi, ular tanah memiliki ukuran sedang dengan panjang rata-rata sekitar 76 cm. Betina umumnya sedikit lebih panjang dibanding jantan, dan dalam kondisi tertentu dapat tumbuh hingga 91 cm. Tubuhnya relatif gemuk dan pendek, ciri khas ular viper darat.

    Warna punggungnya cokelat kemerahan hingga keabu-abuan, dihiasi pola segitiga besar berwarna cokelat gelap yang tersusun berpasangan di sepanjang tubuh. Pola ini berpadu dengan warna serasah daun kering, menjadikan ular tanah sangat sulit terlihat di habitat alaminya. Kepala berbentuk segitiga dengan moncong meruncing, serta pita terang di atas mata yang menjadi ciri pembeda penting.

    Ular tanah hidup di berbagai habitat seperti hutan pantai, rumpun bambu, kebun buah, perkebunan, hingga lahan pertanian yang ditinggalkan. Mangsa utamanya adalah tikus dan hewan pengerat kecil lainnya, sehingga ular ini sering ditemukan di sekitar area aktivitas manusia.

    BACA JUGA:

    Apakah Ular Tanah Berbahaya?

    Ular Tanah. (sumber: wikipedia)
    Ular Tanah. (sumber: wikipedia)

    Untuk menjawab pertanyaan apakah ular tanah berbahaya?, jawabannya adalah: ya, ular tanah termasuk ular berbisa yang berbahaya secara medis, meskipun tingkat kematiannya relatif rendah jika mendapat penanganan yang tepat.

    Ular tanah merupakan jenis pit viper berbisa hemotoksik. Bisa ular ini tidak menyerang sistem saraf seperti kobra atau ular laut, melainkan menyerang sistem darah dan jaringan tubuh. Penelitian toksin modern menunjukkan bahwa bisa Calloselasma rhodostoma mengandung campuran protein kompleks yang berdampak serius pada pembekuan darah dan jaringan.

    Karakter Bisa Ular Tanah

    Berdasarkan studi venomik yang dipublikasikan dalam Journal of Proteomics (Tang et al., 2016), bisa ular tanah mengandung setidaknya 96 jenis protein berbeda. Komponen utamanya meliputi:

    • Snake Venom Metalloproteinases (SVMP) sekitar 41%, yang menyebabkan perdarahan dan kerusakan jaringan.
    • C-type lectins (snaclec) yang memengaruhi fungsi trombosit.
    • Snake Venom Serine Protease (SVSP) seperti ancrod, yang memicu gangguan pembekuan darah.
    • L-amino acid oxidase dan phospholipase A2, yang berkontribusi pada peradangan dan nekrosis.

    Kombinasi racun ini menyebabkan sindrom medis yang dikenal sebagai venom-induced consumptive coagulopathy (VICC), yakni kondisi di mana sistem pembekuan darah rusak sehingga penderita berisiko mengalami perdarahan internal.

    Dampak Gigitan terhadap Manusia

    Secara klinis, gigitan ular tanah menimbulkan dua jenis efek utama: lokal dan sistemik.

    Efek Lokal

    Penelitian klinis menunjukkan bahwa sekitar 95% korban mengalami:

    • Nyeri hebat di lokasi gigitan
    • Pembengkakan signifikan
    • Lepuh dan perubahan warna kulit
    • Nekrosis atau kematian jaringan pada kasus tertentu

    Jika tidak ditangani dengan cepat, kerusakan jaringan dapat bersifat permanen dan berujung pada disfungsi anggota tubuh.

    BACA JUGA:

    Efek Sistemik

    Efek sistemik terjadi pada sekitar 33% hingga 88% kasus, tergantung dosis bisa dan kondisi korban. Efek ini meliputi:

    • Gangguan pembekuan darah
    • Perdarahan internal
    • Penurunan trombosit
    • Hemolisis (kerusakan sel darah merah)

    Data dari Malaysia dan Thailand mencatat sekitar 700 kasus gigitan ular tanah per tahun, dengan tingkat kematian sekitar 2%. Angka kematian tergolong rendah, namun risiko kecacatan tetap tinggi bila antivenom tidak tersedia atau penanganan terlambat.

    Perilaku dan Risiko Interaksi dengan Manusia

    Ular tanah dikenal memiliki sifat defensif dan relatif agresif ketika terganggu. Ia cenderung diam dan tidak berpindah tempat dalam waktu lama, mengandalkan kamuflase sebagai perlindungan. Akibatnya, banyak kasus gigitan terjadi karena manusia tidak sengaja menginjak atau mendekatinya.

    Sebagian besar gigitan terjadi di kaki dan tungkai bawah, terutama pada pekerja kebun, petani, atau orang yang berjalan tanpa alas kaki di area vegetasi rapat.

    Manfaat Ilmiah dari Bisa Ular Tanah

    Menariknya, di balik bahayanya, bisa ular tanah juga memiliki nilai medis. Enzim ancrod yang diisolasi dari bisa ular ini digunakan dalam penelitian dan terapi untuk melarutkan bekuan darah (trombus) dan menurunkan viskositas darah. Namun, penelitian terbaru menyatakan bahwa penggunaannya dalam terapi trombotik masih memerlukan pendekatan alternatif karena efek sampingnya terhadap sistem pembekuan.

    BACA JUGA:

    FAQ Seputar Ular Tanah

    1. Apakah ular tanah mematikan?

    Tidak selalu. Tingkat kematian relatif rendah, sekitar 2%, tetapi efek samping serius dapat terjadi tanpa penanganan medis.

    2. Di mana ular tanah sering ditemukan?

    Di kebun, perkebunan, hutan pantai, rumpun bambu, dan lahan pertanian yang jarang diolah.

    3. Apakah ular tanah agresif?

    Ular tanah cenderung defensif dan akan menyerang jika merasa terancam atau terinjak.

    4. Apa yang harus dilakukan jika tergigit ular tanah?

    Segera cari pertolongan medis, hindari pengobatan tradisional, dan jangan menggunakan torniket berlebihan.

    5. Apakah bisa ular tanah memiliki manfaat?

    Ya, beberapa komponen bisanya dimanfaatkan dalam penelitian medis, terutama terkait pembekuan darah.

    Share
    Komentar
    Additional JS