0
News
    Home Featured Spesial Tips & Tricks Ular

    Benarkan Cuaca Panas Bikin Ular Keluar Sarang? Fakta Lengkap dan Tips Cegah Masuk Rumah - Liputan6

    9 min read

      

    Benarkan Cuaca Panas Bikin Ular Keluar Sarang? Fakta Lengkap dan Tips Cegah Masuk Rumah

    Fenomena cuaca panas sering dikaitkan dengan kemunculan ular. Benarkan cuaca panas bikin ular keluar sarang? Temukan fakta ilmiah dan tips praktis mencegahnya masuk rumah di sini.

    oleh Mabruri Pudyas SalimDiterbitkan 14 Oktober 2025, 18:20 WIB
    Share
    Liputan6.com, Jakarta Pertanyaan "Benarkan cuaca panas bikin ular keluar sarang?" seringkali muncul di benak masyarakat, terutama saat suhu lingkungan meningkat ekstrem. Fenomena kemunculan ular di permukiman memang kerap menjadi berita, seperti laporan dari Tuban pada Oktober 2023 dan Bintan pada Agustus 2023, yang mengimbau warga untuk waspada terhadap ular yang keluar sarang di tengah musim panas.

    Bahkan, saat suhu meningkat, banyak ular yang keluar dari sarangnya untuk mencari makanan dan tempat yang lebih sejuk. Tak jarang, mereka memilih area di sekitar rumah, menimbulkan kekhawatiran bagi penghuni.

    BACA JUGA:

    Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan ilmiah yang mudah dipahami mengenai alasan di balik fenomena ini, disertai dengan tips pencegahan yang praktis dan langkah penanganan yang tepat jika Anda berhadapan dengan ular. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan masyarakat dapat meminimalisir risiko konflik dengan reptil ini.

    Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (14/10/2025).

    Benarkah Cuaca Panas Memicu Ular Keluar Sarang?

    7 Fakta Mengejutkan Sarang Ular, Jadi Rumah Bagi Ribuan Reptil Bersatu
    Ilustrasi sarang atau lubang ular. [Foto: Gemini]

    Ya, cuaca panas merupakan salah satu pemicu utama yang membuat ular keluar dari sarangnya. Ular adalah hewan berdarah dingin, atau dikenal sebagai ektoterm, yang berarti mereka tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri dan sangat bergantung pada suhu lingkungan di sekitarnya.

    Saat cuaca terlalu panas, suhu tanah dan sarangnya, yang biasanya berupa lubang atau tempat teduh, bisa menjadi sangat ekstrem dan berbahaya bagi metabolisme mereka. Untuk mencegah kepanasan (overheating) yang bisa berakibat fatal, ular akan keluar mencari tempat yang lebih sejuk dan lembap untuk berlindung dan mendinginkan tubuh mereka.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bintan juga menyebutkan bahwa pada musim panas, hewan berbisa seperti ular rawan keluar dari sarang atau hutan. Mereka mencari tempat yang lebih aman dan nyaman untuk berteduh, seringkali menuju area basah, semak-semak rindang, saluran air, atau bahkan area di sekitar rumah seperti ventilasi pengering atau kamar mandi yang lembap.

    BACA JUGA:

    Selain Cuaca Panas, Ini 5 Faktor Lain yang Membuat Ular Keluar Sarang

    Meskipun cuaca panas adalah pemicu signifikan, kemunculan ular di permukiman bukanlah satu-satunya alasan. Ada faktor lain, yang seringkali saling berkaitan, juga mendorong ular untuk keluar dari habitat aslinya dan mendekat ke lingkungan manusia.

    1. Mencari Mangsa

    Suhu panas tidak hanya memengaruhi ular, tetapi juga hewan mangsa alami mereka seperti tikus, katak, dan cicak. Hewan-hewan ini juga akan aktif mencari tempat yang lebih sejuk, dan ular akan mengikuti jejak mangsanya.

    Ular akan keluar dari sarangnya untuk berburu makanan, dan seringkali berakhir di sekitar rumah manusia karena mangsa mereka juga mencari perlindungan di area permukiman. Kehadiran hewan pengerat menjadi daya tarik utama bagi ular predator.

    2. Terdesaknya Habitat Alami (Fragmentasi Habitat)

    Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk kebun sawit, karet, permukiman, hingga proyek infrastruktur menyebabkan fragmentasi habitat. Ini adalah penyempitan dan pemecahan hutan serta lahan basah sebagai rumah alami ular.

    Kondisi ini memaksa ular untuk berpindah dan mencari tempat tinggal baru, termasuk di sekitar permukiman manusia. Sebuah kajian mencatat ribuan kasus konflik manusia dengan ular di seluruh Indonesia, menunjukkan dampak signifikan dari perubahan habitat ini.

    3. Musim Hujan & Banjir

    Saat hujan lebat atau banjir, sarang ular di dalam tanah atau semak-semak dapat tergenang air. Karena ular bernapas dengan paru-paru, mereka tidak bisa terus-menerus terendam air.

    Peningkatan volume air akan menggenangi lubang-lubang sarang dan habitatnya, mendorong mereka untuk keluar dan mencari tempat yang lebih kering dan tinggi. Tak jarang, mereka masuk ke dalam rumah untuk mencari perlindungan dari genangan air.

    4. Musim Kawin dan Penetasan Telur

    Ular aktif mencari pasangan selama musim kawin, yang umumnya terjadi sekitar bulan Mei hingga Juli. Setelah musim kawin, ular akan bertelur antara bulan Agustus hingga November.

    Musim hujan juga merupakan waktu ketika telur ular menetas, menyebabkan peningkatan populasi anakan ular yang keluar dari sarangnya dan menyebar ke berbagai area. Aktivitas ini meningkatkan kemungkinan pertemuan dengan manusia.

    5. Aktivitas Malam Hari

    Banyak spesies ular lebih aktif pada malam hari (nokturnal) karena suhu mulai turun setelah siang yang terik. Aktivitas mencari makan di malam hari menjadi lebih tinggi, biasanya antara pukul 17.00 hingga 03.00 dini hari.

    Penurunan suhu pada sore hari membuat ular yang merupakan hewan berdarah dingin merasa lebih nyaman untuk keluar dari persembunyiannya. Pada malam hari, ular aktif mencari mangsa, seperti tikus, cicak, atau katak, yang juga seringkali beraktivitas pada jam-jam tersebut.

    BACA JUGA:

    Tips Jitu Mencegah Ular Masuk ke Rumah dan Lingkungan Sekitar

    Ilustrasi kucing digigt ular
    Ilustrasi kucing digigt ular (Ilustrasi: GeminiAI)

    Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah tips praktis yang bisa Anda terapkan untuk meminimalisir risiko ular masuk ke rumah dan lingkungan sekitar, menjaga keamanan penghuni.

    1. Jaga Kebersihan Rumah dan Halaman

    • Usir Tikus: Tikus adalah mangsa favorit ular. Pastikan tidak ada sampah menumpuk dan tutup rapat celah yang bisa jadi jalur tikus, karena ular dapat menangkap bau hewan pengerat tersebut yang akhirnya mengundangnya masuk ke area rumah.
    • Pangkas Rumput & Semak: Rumput tinggi dan semak belukar adalah tempat persembunyian ideal bagi ular. Ular cenderung enggan bergerak melalui rumput pendek karena hal itu meningkatkan paparan mereka terhadap predator. Jaga halaman tetap rapi.
    • Bersihkan Tumpukan Barang: Singkirkan tumpukan kayu, batu bata, ranting, atau barang bekas di sekitar rumah yang bisa dijadikan tempat nyaman bagi ular. Area yang bersih mengurangi tempat persembunyian.

    2. Tutup Semua Celah Potensial

    Periksa dan tutup retakan pada dinding, fondasi rumah, lubang ventilasi, dan saluran pembuangan dengan kawat atau bahan lainnya. Retak dan celah pada dinding adalah pintu masuk potensial bagi ular, sehingga perlu ditutup rapat.

    3. Gunakan Pengusir Alami

    • Bau Menyengat: Ular tidak menyukai bau yang menusuk hidung. Anda bisa menaburkan bubuk kapur barus atau kamper di area yang rawan, namun pastikan aman dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
    • Tanaman Pengusir Ular: Beberapa tanaman dipercaya dapat mengusir ular karena aroma, tekstur, atau senyawa tertentu yang tidak disukai reptil tersebut. Contohnya termasuk bunga marigold, serai wangi, dan lavender yang memiliki wangi kuat yang dapat mengganggu indra penciuman ular.

    4. Pasang Pagar Pembatas

    Pagar yang rapat dan tinggi dapat menghalangi ular masuk, terutama untuk rumah yang dekat dengan area persawahan atau hutan. Pagar yang kokoh menjadi benteng pertahanan pertama.

    5. Pelihara Hewan Penjaga

    Hewan peliharaan seperti kucing memiliki insting yang kuat untuk mendeteksi dan menghalau ular dengan cakarnya. Kehadiran hewan peliharaan dapat menjadi peringatan dini bagi pemilik rumah.

    BACA JUGA:

    FAQ

    Q: Apa yang harus saya lakukan jika bertemu ular di rumah?

    A: Jangan panik, jaga jarak aman, dan segera hubungi petugas pemadam kebakaran setempat untuk penanganan.

    Q: Benarkah ular agresif menyerang manusia?

    A: Tidak, ular pada dasarnya takut pada manusia dan hanya akan membela diri jika merasa terancam atau diganggu.

    Q: Ular mana saja yang paling sering masuk permukiman di Indonesia?

    A: Ular Kobra Jawa dan Ular Piton/Sanca Kembang adalah jenis yang paling sering berinteraksi dengan manusia.

    Q: Kapan waktu-waktu kritis untuk mewaspadai kehadiran ular?

    A: Waspada saat siang sangat panas, sore hingga malam hari, musim penghujan, dan musim kawin (Mei-Juli).

    Q: Bagaimana pertolongan pertama jika digigit ular?

    A: Tetap tenang, posisikan area gigitan lebih rendah dari jantung, lepas perhiasan, dan segera hubungi bantuan medis.

    Share
    Komentar
    Additional JS