0
News
    Home Featured Janur Kuning Sejarah Spesial Tradisi

    Kenapa Janur Kuning Identik dengan Tradisi Pernikahan di Solo Raya? Ini Sejarah dan Filosofinya - Tribunsolo

    10 min read

     

    Kenapa Janur Kuning Identik dengan Tradisi Pernikahan di Solo Raya? Ini Sejarah dan Filosofinya - Tribunsolo.com

    Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
    TribunSolo.com/Anang Ma'ruf
    ORNAMEN PERNIKAHAN - Ilustrasi Janur kuning yang menghiasi kawasan Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/12/2022). Beginilah sejarah kenapa janur kuning identik dengan tradisi pernikahan di Solo Raya dan DIY. 
    Ringkasan Berita:
    • Janur kuning hampir selalu hadir dalam pernikahan adat Jawa di Solo Raya–DIY, digunakan pada tarub, kembar mayang, hingga pintu masuk, dan diwariskan turun-temurun selama sekitar 600 tahun.
    • Janur bermakna “cahaya sejati” (jan = sejati, nur = cahaya Ilahi), melambangkan doa, tuntunan Tuhan, kejayaan, kemenangan, serta harapan rumah tangga harmonis dan suci.
    • Meski dekorasi modern kini didominasi bunga, janur tetap dipertahankan dalam prosesi penting seperti kembar mayang dan pasang bleketepe.

    TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernahkah Tribuners bertanya-tanya, ketika menghadiri acara pernikahan di Solo Raya, Jawa Tengah, hampir pasti ada ornamen janur kuning.

    Ya, dalam adat dan tradisi budaya masyarakat Jawa, janur merupakan elemen yang nyaris tak terpisahkan dari pelaksanaan acara atau resepsi pernikahan.

    Kehadirannya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tarub, kembar mayang, hingga hiasan di pintu masuk rumah atau lokasi resepsi.

    Janur telah menjadi simbol khas yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang dan tetap lestari hingga masa kini, meskipun zaman terus mengalami perubahan.

    Penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa bukan sekadar hiasan dekoratif, melainkan mengandung makna filosofis, religius, dan simbolik yang sangat dalam.

    Tak heran jika hingga abad modern ini, janur masih tetap eksis dan dipertahankan oleh masyarakat Jawa, termasuk di Surakarta (Solo) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.

    Sejarah Janur dalam Tradisi Pernikahan Jawa

    Rekomendasi Untuk Anda
    Asal-usul Desa Bugisan Klaten, Jejak Prajurit Bogis hingga Lahirnya Desa Wisata Candi Plaosan

    Konon, penggunaan janur manten di Solo-DIY masih bertahan hingga saat ini karena memiliki akar sejarah yang sangat kuat.

    Solo dan DIY sama-sama merupakan trah Mataram, yang sejak masa lampau telah melestarikan berbagai tradisi budaya, termasuk penggunaan janur dalam upacara pernikahan.

    Menurut catatan sejarah, penggunaan janur dalam prosesi pernikahan bermula dari kisah Ki Ageng Tarub, seorang tokoh penting dalam sejarah Jawa.

    Ki Ageng Tarub merupakan putra dari Syekh Maulana Maghribi dan dikenal sebagai sahabat dekat Kanjeng Sunan Kalijaga.

    Ketika Ki Ageng Tarub menikahkan putranya di Dusun Tarub, ia meminta Sunan Kalijaga untuk membuatkan tarub sebagai bagian dari prosesi pernikahan.

    Tarub inilah yang kemudian menggunakan janur sebagai salah satu unsur utamanya.

    Janur, yang merupakan daun kelapa muda berwarna kuning, sejak saat itu menjadi simbol yang terus digunakan dalam pernikahan adat Jawa.

    Tarub tersebut diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1365.

    Artinya, penggunaan janur telah bertahan selama kurang lebih 600 tahun dan masih dijumpai hingga sekarang.

    Keberlanjutan tradisi ini terjadi karena makna simbolik yang terkandung dalam tarub dan janur dianggap sebagai bentuk kearifan lokal yang sangat berharga.

    Tradisi tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk pada masa Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal berdirinya Keraton Yogyakarta.

    Janur sebagai Simbol Kearifan Lokal

    Pada masa lalu, ketika tradisi tulis belum berkembang seperti sekarang, berbagai cita-cita, harapan, dan doa diwujudkan dalam bentuk simbol benda.

    Janur menjadi salah satu simbol budaya yang mengandung makna semantik kultural, yakni makna yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual.

    ELEMEN PERNIKAHAN - Cantrik membawa kembar mayang pada prosesi mantenan atau pernikahan adat Jawa di Desa Tambanlupak, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu. Inilah sejarah kembar mayang Surakarta yang jadi warisan budaya takbenda.
    ELEMEN PERNIKAHAN - Cantrik membawa kembar mayang pada prosesi mantenan atau pernikahan adat Jawa di Desa Tambanlupak, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu. Inilah sejarah kembar mayang Surakarta yang jadi warisan budaya takbenda. (TribunSolo.com/banjarmasinpost.co.id/roy)

    Secara etimologis, kata “janur” dapat ditelusuri dari unsur kata “jan” yang berarti sejati atau sesungguhnya, dan “nur” yang berarti cahaya.

    Dalam pemaknaan budaya Jawa, nur dimaknai sebagai cahaya Ilahi, cahaya yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

    Dengan demikian, janur dimaknai sebagai “cahaya sejati”, yakni pencerahan dan petunjuk hidup yang datang dari Tuhan.

    Makna ini selaras dengan filosofi pernikahan dalam budaya Jawa, yang tidak hanya mempersatukan dua insan, tetapi juga mengharapkan kehidupan rumah tangga yang mendapatkan cahaya, berkah, dan tuntunan Ilahi.

    Makna Warna Kuning pada Janur

    Selain dari makna katanya, janur juga memiliki filosofi dari segi visual.

    Warna kuning pada janur melambangkan kejayaan, kemenangan, dan kemuliaan.

    Warna ini juga dimaknai sebagai “sabda dadi”, yakni harapan agar segala doa, cita-cita, dan niat baik yang dipanjatkan dengan hati yang bersih dan tulus dapat terwujud.

    Makna warna kuning sebagai simbol kemenangan juga pernah digunakan dalam konteks sejarah perjuangan bangsa.

    Yakni, ketika peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta, ketika Letkol Soeharto dan para prajurit mengenakan kalung janur kuning sebagai simbol kemenangan dan semangat juang.

    Sementara itu, warna keputihan pada janur juga mengandung doa agar cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga pengantin senantiasa muda, bersih, dan suci, layaknya daun kelapa muda itu sendiri.

    Fungsi Janur Kuning dalam Pernikahan Adat Jawa

    Dalam tradisi Jawa, janur kuning memiliki berbagai fungsi penting.

    • Pertama, janur digunakan sebagai penanda adanya hajatan pernikahan atau “nganten”.

    Janur yang dipasang di depan rumah atau pintu masuk lokasi resepsi menjadi petunjuk bagi masyarakat bahwa di tempat tersebut sedang berlangsung acara pernikahan.

    • Kedua, janur dirangkai menjadi kembar mayang, yakni hiasan simbolik yang dipasang di pelaminan.

    Kembar mayang digunakan sejak prosesi midodareni hingga prosesi panggih.

    Kembar mayang sendiri melambangkan doa keselamatan, kesuburan, keharmonisan, serta keseimbangan hidup bagi kedua mempelai.

    • Ketiga fungsi spiritual.

    Selain itu, janur kuning juga dipercaya memiliki fungsi spiritual, yakni sebagai simbol perlindungan dan harapan agar rumah tangga yang baru dibangun terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, baik secara lahir maupun batin.

    Pergeseran dan Adaptasi di Era Modern

    Meski tetap eksis, saat ini telah terjadi pergeseran dalam penggunaan janur pada pernikahan adat Jawa.

    Namun, pergeseran tersebut tidak bersifat frontal atau revolusioner.

    Dahulu, janur banyak digunakan sebagai elemen utama dekorasi pelaminan, pajegan, dan berbagai ornamen pernikahan.

    Kini, dekorasi pernikahan cenderung berkembang ke arah yang lebih modern dan didominasi oleh bunga-bunga segar.

    Meski demikian, fungsi janur masih tetap dipertahankan, terutama untuk kembar mayang dan prosesi pasang bleketepe di rumah.

    Berkurangnya penggunaan janur juga dipengaruhi oleh berkembangnya model pernikahan nasional maupun internasional.

    Jika konsep dekorasi yang digunakan masih bernuansa Jawa, janur tetap memiliki peran meskipun tidak dominan.

    Namun, pada pernikahan dengan konsep modern atau internasional, penggunaan janur sering kali ditiadakan.

    (*)

    Komentar
    Additional JS