Sejarah Sate Kambing hingga Bisa jadi Kuliner Khas Solo, Mulai Dikenal Sejak Kerajaan Majapahit - Tribunsolo
Sejarah Sate Kambing hingga Bisa jadi Kuliner Khas Solo, Mulai Dikenal Sejak Kerajaan Majapahit - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Sate adalah kuliner Indonesia berupa daging tusuk bakar dengan bumbu kacang atau kecap. Jenisnya beragam dan berakar dari tradisi memanggang daging sejak masa prasejarah, diperkaya pengaruh Arab dan India.
- Sate dikenal sejak era Majapahit sebagai hidangan bangsawan, lalu menyebar luas pada masa penjajahan Belanda hingga abad ke-19–20 menjadi makanan rakyat dan ikon kuliner kaki lima.
- Solo dikenal kuat dengan kuliner kambing seperti sate dan tengkleng, dipengaruhi budaya Arab di Pasar Kliwon.
TRIBUNSOLO. SOLO - Sate merupakan salah satu kuliner Indonesia yang namanya telah mendunia.
Hidangan berupa potongan daging yang ditusuk lalu dibakar ini dikenal dengan cita rasa khas, baik disajikan dengan bumbu kacang maupun kecap
Ragamnya pun sangat beragam, mulai dari sate ayam, sate kambing, sate sapi, hingga sate kelinci, menyesuaikan dengan bahan dan budaya daerah masing-masing.
Namun, di balik popularitasnya, sate memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Jejak Awal Sate dari Tradisi Kuno
Banyak sejarawan meyakini bahwa sate berakar dari tradisi memanggang daging yang telah dikenal sejak masa prasejarah.
Masyarakat kuno menggunakan cara menusuk dan membakar daging sebagai metode sederhana untuk mengawetkan makanan sekaligus meningkatkan cita rasa.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini diperkaya oleh pengaruh budaya asing.
Sejumlah teori menyebutkan bahwa sate mendapat sentuhan dari kebiasaan memasak masyarakat Arab dan India yang telah lama mengenal teknik memanggang daging bertusuk.
Pedagang Arab dan India yang datang ke Nusantara pada masa kerajaan Islam diyakini membawa tradisi tersebut, khususnya dalam pengolahan daging kambing.
Hal ini terlihat dari kemiripan sate dengan kuliner lain di dunia, seperti kebab dari Timur Tengah, shashlik dari Rusia, serta satay di Malaysia dan Singapura.

Sate pada Masa Kerajaan hingga Penjajahan
Di Indonesia, sate mulai dikenal luas pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 hingga ke-15.
Saat itu, teknik memanggang daging sudah umum dikenal, namun sate masih menjadi hidangan kalangan bangsawan dan disajikan dalam upacara-upacara kerajaan.
Popularitas sate semakin meluas pada masa penjajahan Belanda.
Interaksi budaya antara penjajah dan masyarakat lokal membuat sate tidak lagi eksklusif.
Warung-warung dan pasar mulai menjajakan sate berbahan ayam, kambing, maupun sapi, hingga akhirnya menjadi makanan rakyat yang mudah dijumpai.
Memasuki abad ke-19 dan 20, sate menjelma menjadi salah satu ikon kuliner kaki lima Indonesia yang digemari semua lapisan masyarakat.
Menjelma Jadi Kuliner Khas Solo
Di antara banyak daerah di Indonesia, Kota Solo (Surakarta) dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan kuliner berbahan kambing.
Hampir di setiap sudut kota, terutama di kawasan Pasar Kliwon, mudah ditemui penjual sate kambing, tengkleng, hingga tongseng.
Cita rasa sate kambing khas Solo dikenal sederhana namun kuat, dengan perpaduan kecap manis, irisan bawang merah, dan cabai.
Rasa inilah yang membuat sate kambing Solo menjadi incaran wisatawan.
Menurut berbagai sumber, kuatnya tradisi kuliner kambing di Solo dipengaruhi oleh keberadaan komunitas Timur Tengah, khususnya pedagang Arab, yang telah lama bermukim di wilayah Pasar Kliwon.
Konon, daging kambing dahulu kerap disajikan oleh pedagang Arab kepada bangsawan Solo, hingga akhirnya digemari oleh kalangan keraton.
Dari Sate hingga Tengkleng
Tak hanya sate kambing, kreativitas wong Solo juga melahirkan tengkleng, olahan tulang dan jeroan kambing berkuah gurih.
Tengkleng lahir pada masa penjajahan Jepang, saat kondisi ekonomi sulit dan masyarakat harus memanfaatkan bagian kambing yang tersisa.
Seiring waktu, tengkleng yang awalnya identik dengan rakyat kecil justru digemari kalangan priyayi.
Hal ini, menurut sejarawan kuliner Heri Priyatmoko, membuktikan bahwa tengkleng mampu menunjukkan jati diri dan nilai tinggi sebagai kuliner khas Solo.
(*)