0
News
    Home Featured Spesial Tarub Tradisi

    Mengenal Upacara Pasang Tarub, Tradisi Jelang Pernikahan di Solo Raya yang Sarat Makna - Tribunsolo

    7 min read

     

    Mengenal Upacara Pasang Tarub, Tradisi Jelang Pernikahan di Solo Raya yang Sarat Makna - Tribunsolo.com

    Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
    Tribun Jogja/Hendra Krisdianto
    TRADISI JELANG PERNIKAHAN - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro beberapa tahun lalu. Upacara pasang tarub sampai kini masih eksis di Solo Raya, Jawa Tengah, begini sejarahnya. 
    Ringkasan Berita:
    • Pasang tarub merupakan tradisi pernikahan adat Jawa yang masih lestari di Solo, dilakukan sebagai penanda dimulainya hajatan sekaligus doa agar prosesi pernikahan berjalan lancar dan membawa keselamatan bagi calon pengantin.
    • Tradisi ini berakar dari kisah Jaka Tarub, saat Ki Ageng Tarub tambah atap rumah dari anyaman daun kelapa dan janur kuning, yang diwariskan turun-temurun.
    • Tarub dilengkapi ornamen sarat makna seperti janur kuning, pisang raja, dan hasil bumi lain sebagai simbol harapan.

    TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Upacara pasang tarub sampai kini masih dilakukan dalam tradisi pernikahan adat Jawa, khususnya di Solo, Jawa Tengah, dan sekitarnya.

    Tradisi ini lazim dilakukan sebagai penanda dimulainya rangkaian hajatan pernikahan, sekaligus wujud doa dan harapan agar prosesi pernikahan berjalan lancar serta membawa keselamatan lahir batin bagi calon pengantin.

    Secara sederhana, pasang tarub adalah kegiatan menata ruang di sekitar rumah yang memiliki hajat dengan memasang tenda dan berbagai hiasan berbahan alam.

    Tarub berfungsi sebagai tempat berteduh tamu, sekaligus simbol kesiapan keluarga menyambut peristiwa sakral pernikahan.

    Dalam tradisi Jawa, tarub biasanya dipasang setelah prosesi pingitan dan sebelum siraman atau midodareni.

    Asal-Usul Pasang Tarub

    Tradisi pasang tarub dipercaya berakar dari kisah Jaka Tarub.

    Konon, saat Jaka Tarub hendak menikah, ayahnya, Ki Ageng Tarub, ingin menggelar selamatan.

    Rekomendasi Untuk Anda
    Makna Pemasangan Bleketepe dalam Pernikahan Adat di Solo, Dipercaya sebagai Tolak Bala

    Karena rumah yang dimiliki berukuran kecil, Ki Ageng Tarub berinisiatif menambah atap dari anyaman daun kelapa dan janur kuning.

    Dengan bantuan sanak saudara dan tetangga secara gotong royong, tarub pun terpasang dan pernikahan dapat berlangsung dengan baik.

    Sejak saat itu, pemasangan tarub menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun dalam pernikahan adat Jawa.

    Secara etimologis, kata “tarub” merupakan akronim dari ungkapan Jawa ditata supaya murub, yang berarti “ditata agar bersinar”.

    Makna ini mencerminkan harapan agar hajatan pernikahan memancarkan kebaikan, keberkahan, dan kebahagiaan.

    Janur kuning yang menghiasi kawasan Mangkunegaran, Sabtu (10/12/2022).
    Janur kuning yang menghiasi kawasan Mangkunegaran, Sabtu (10/12/2022). (TribunSolo.com/Anang Ma'ruf)

    Simbolisme Hiasan Tarub

    Pasang tarub tidak sekadar memasang tenda, tetapi juga menyertakan berbagai ornamen sarat makna.

    Salah satu yang paling mudah dikenali adalah bleketepe, yakni anyaman janur kuning yang dipasang di bagian depan rumah.

    Janur sendiri dimaknai sebagai sejane ning nur, simbol upaya manusia meraih cahaya Ilahi dengan hati yang bersih.

    Selain itu, dipasang pula sepasang pisang raja atau pisang raja talun di kanan dan kiri pintu masuk.

    Pisang ini melambangkan cinta sejati dan harapan agar kehidupan rumah tangga pengantin berlangsung manis, mulia, dan setia, sebagaimana pohon pisang yang hanya berbuah sekali seumur hidup.

    Berbagai dedaunan dan hasil bumi lain juga turut melengkapi tarub, seperti tebu wulung yang melambangkan kemantapan hati, cengkir gading sebagai simbol keteguhan pikiran, daun beringin sebagai perlindungan, hingga padi satu ikatan yang bermakna kecukupan rezeki.

    Seluruh komponen tersebut merupakan doa simbolik agar pengantin kelak mampu membangun rumah tangga yang harmonis, sejahtera, dan kuat menghadapi ujian hidup.

    Tradisi yang Terus Dijaga di Solo

    Di wilayah Solo dan sekitarnya, termasuk Kalurahan Mulo, tradisi pasang tarub masih dilestarikan.

    Sebelum tarub dipasang, biasanya diawali dengan kenduri atau doa bersama yang dipimpin tokoh agama atau sesepuh setempat.

    Prosesi ini menjadi wujud permohonan restu sekaligus mempererat nilai kebersamaan warga.

    Meski kini banyak keluarga memilih tenda modern yang lebih praktis, pasang tarub tetap menjadi tradisi di Solo Raya.

    Apakah di tempatmu masih melestarikan tradisi satu ini?

    (*)

    Komentar
    Additional JS