Sejarah Krengsengan, Kuliner Legendaris Solo yang Terinspirasi dari Belanda - Tribunsolo
Sejarah Krengsengan, Kuliner Legendaris Solo yang Terinspirasi dari Belanda - Tribunsolo.com
- Krengsengan adalah kuliner khas Solo berbahan daging kambing dengan kuah cokelat pekat, bercita rasa gurih, manis, sedikit pedas, dan memakai petis sebagai pembeda dari semur.
- Hidangan ini sudah ada sejak era kolonial, hasil perpaduan teknik semur Belanda dan bumbu Jawa, dimasak perlahan agar bumbu meresap dan daging empuk.
- Salah satu krengsengan legendaris ada di Sate Pak Min Sithong, Pasar Kliwon, terkenal dengan krengsengan buntut kambing resep turun-temurun sejak 1950-an.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bicara soal makanan khas Solo, Jawa Tengah, yang populer tapi cukup underated, ada nama krengsengan.
Bagaimana tidak? krengsengan ini masih kalah populer dari sate kambing, tengkleng, atau tongseng, yang sama-sama berbahan dasar kambing.
Tetapi, sekali mencicipi krengsengan khas Solo, bisa jadi lidahmu bakal ketagihan.
Apa Itu Krengsengan?
Krengsengan adalah salah satu kuliner legendaris khas Solo yang memiliki cita rasa khas yang menggoda, dengan perpaduan gurih, manis, dan sedikit pedas.
Hidangan ini dikenal dengan kuahnya yang pekat dan berwarna cokelat gelap, yang meresap sempurna ke dalam daging kambing.
Krengsengan seringkali dibandingkan dengan semur daging, namun ada perbedaan mendalam dalam bahan utama dan penggunaan petis yang memberikan rasa khas.

Di Solo, berkembang varian krengsengan, mulai dari krengsengan buntut sampai krengsengan lidah.
Sejarah Krengsengan
Krengsengan diperkirakan sudah ada sejak zaman kolonial, di mana pengaruh kuliner Belanda yang memperkenalkan semur daging bertemu dengan bumbu tradisional khas Nusantara.
Seiring waktu, hidangan ini berkembang menjadi salah satu sajian favorit masyarakat Solo, khususnya pecinta olahan daging kambing.
Perpaduan teknik memasak semur dan rempah-rempah Jawa menghasilkan rasa yang unik, dominasi manis dan gurih dengan sentuhan aroma khas dari petis yang memberi kedalaman pada cita rasa.
Masyarakat Solo sendiri dikenal memiliki tradisi memasak dengan teknik perlahan, yang memungkinkan bumbu-bumbu meresap dan daging menjadi lebih empuk.
Dengan mengolah daging kambing menggunakan bumbu halus, kecap manis, dan petis, krengsengan menjadi hidangan yang memiliki daya tarik tersendiri.
Proses Memasak Krengsengan
Daging kambing yang digunakan dalam krengsengan harus dipilih dengan teliti untuk memastikan teksturnya tetap empuk dan tidak berbau prengus.
Bagian daging yang sering digunakan adalah bagian iga atau daging tanpa lemak berlebih, karena memiliki tekstur yang empuk dan rasa yang lebih kaya.
Sebelum dimasak, daging biasanya direndam dalam air jeruk nipis atau cuka untuk mengurangi bau khas kambing.
Proses memasak krengsengan dimulai dengan menumis bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jahe, dan merica hingga harum.
Setelah itu, petis ditambahkan untuk memberikan cita rasa yang lebih dalam, sebelum daging kambing dimasukkan bersama kecap manis, garam, dan sedikit air.
Daging kemudian dimasak perlahan hingga empuk dan bumbu meresap dengan sempurna.
Penyajian Krengsengan
Krengsengan biasanya disajikan dengan nasi putih hangat yang menyerap kuah bumbu dengan sempurna, membuat setiap suapan terasa nikmat dan lezat.
Beberapa variasi krengsengan juga menambahkan irisan cabai rawit untuk memberikan sensasi pedas yang lebih kuat, sesuai dengan selera orang Solo yang gemar makanan berbumbu intens.
Tidak jarang, krengsengan juga dilengkapi dengan taburan bawang goreng untuk menambah aroma dan memberikan tekstur renyah yang kontras dengan kelembutan daging.
Hidangan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga memiliki manfaat gizi yang cukup tinggi.
Daging kambing kaya akan protein dan zat besi yang penting untuk daya tahan tubuh dan mencegah anemia.
Sementara itu, rempah-rempah yang digunakan dalam krengsengan seperti jahe, merica, dan kemiri memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti meningkatkan metabolisme dan menjaga kesehatan kulit serta rambut.
Namun, karena krengsengan mengandung lemak yang cukup banyak, disarankan untuk mengonsumsinya dengan bijak, terutama bagi mereka yang memiliki masalah kolesterol atau tekanan darah tinggi.
Rekomendasi Krengsengan Legendaris di Solo
Krengsengan bukan hanya dikenal sebagai hidangan rumahan, tetapi juga menjadi kuliner legendaris yang dapat ditemukan di banyak rumah makan khas Solo.
Salah satu tempat yang terkenal dengan krengsengan adalah Sate Pak Min Sithong, yang sudah berdiri sejak 1950-an.
Warung yang terletak di sekitar Pasar Kliwon ini dikenal dengan krengsengan buntut kambing yang selalu dicari baik oleh wisatawan maupun penduduk lokal.

Sate Pak Sithong terkenal dengan resep krengsengan yang sudah diturunkan selama empat generasi.
Di warung ini, pengunjung dapat menikmati krengsengan buntut kambing yang dihidangkan bersama tulang punggung kambing yang empuk, memberikan cita rasa yang lezat dan tekstur yang mantap.
Menu lain yang ditawarkan adalah sate kambing, sate buntel, tengkleng, dan gule kambing.
Warung ini selalu ramai, terutama pada pagi hari karena persediaan krengsengan buntut kambing yang terbatas.
Krengsengan buntut kambing di Sate Pak Min Sithong memiliki keistimewaan tersendiri.
Buntut kambing yang dimasak bersama tulang punggung memberikan rasa gurih dan manis yang pas.
Tekstur daging yang empuk membuatnya semakin nikmat saat disajikan bersama nasi putih hangat.
Meskipun krengsengan buntut kambing ini cukup terbatas persediannya, banyak orang yang rela datang lebih pagi untuk menikmati kelezatannya.
Pelanggan juga bisa menikmati sate kambing yang empuk dengan bumbu kecap, kacang, dan irisan lombok serta bawang merah mentah.
Setiap suapan sate atau krengsengan di warung ini benar-benar memanjakan lidah dengan rasa yang gurih, manis, dan sedikit pedas.
- Alamat: Jalan Kapten Mulyadi No.287, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.
- Jam Buka: Setiap hari pukul 09.00-16.00 WB
(*)