0
News
    Home Berita Featured Haji Spesial Tips & Tricks

    9 Hal Penting Bagi Jemaah Haji Lansia dan Penyakit Kronik - Tempo

    5 min read

      

    9 Hal Penting Bagi Jemaah Haji Lansia dan Penyakit Kronik

    Ilustrasi naik haji. Shutterstock

    KLOTER pertama jemaah haji Indonesia tiba di Arab Saudi pada Rabu, 22 April 2026. Di tengah cuaca ekstrem dan aktivitas yang padat, kesiapan fisik menjadi penentu kelancaran ibadah, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan jemaah dengan penyakit kronis.

    Nusuk Haji Arab Saudi memberikan panduan kesehatan bagi jamaah haji lansia dan jamaah haji dengan penyakit kronis. Mulai dari obat-obatan, kesiapan dokumentasi medik, alat kesehatan khusus, hingga kebugaran fisik. Panduan ini sangat penting mengingat cukup banyak jemaah haji yang termasuk dalam kategori risiko tinggi.

    Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

    Berikut adalah sembilan rekomendasi kesehatan yang wajib diperhatikan jemaah lansia dan pengidap penyakit kronis agar tetap bugas selama di Tanah Suci.

    1. Konsultasi Medis Sebelum Berangkat

    Langkah paling awal yang penting dilakukan konsultasi kesehatan menyeluruh sebelum berangkat. Evaluasi ini sangat penting bagi jemaah dengan kondisi penyakit kronis berat, seperti kanker stadium lanjut, penyakit paru dan jantung kronis, gangguan hari, ginjal, hingga kondisi senilitas.

    "Jemaah haji ini harus berkonsultasi pada petugas kesehatan untuk menilai kesiapan fisiknya dan juga kondisi kesehatannya secara keseluruhan," kata pakar kesehatan masyarakat Tjandra Yoga Pratama, dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu 22 April 2026.

    2. Kelengkapan Dokumentasi Medik

    Setiap jemaah wajib membawa dokumen medis resmi yang diperoleh dari pemeriksaan di tanah air. Dokumen ini bukan sekadar formalitas, melainkan panduan bagi petugas medis di Arab Saudi jika terjadi kondisi darurat. Informasi di dalamnya harus mencakup rincian kondisi kesehatan, riwayat penyakit, hingga daftar obat-obatan yang sedang dikonsumsi secara rutin.

    3. Persediaan Obat-obatan Pribadi

    Jemaah haji disarankan untuk membawa stok obat-obatan pribadi dalam jumlah yang mencukupi selama  di Arab Saudi. "Satu detail penting yang sering terlewat adalah tidak membawa informasi mengenai nama-nama generik dari obat-obat tersebut," ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI yang pernah menjabat sebagai Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah. Sebab merek dagang obat di Arab Saudi sering kali berbeda dengan merek yang beredar di Indonesia, sehingga nama generik menjadi bahasa universal bagi tenaga medis setempat.

    4. Penyesuaian Jadwal Konsumsi Obat

    Perbedaan waktu yang signifikan antara Indonesia dan Arab Saudi, ditambah dengan jadwal mobilitas jemaah yang padat, berpotensi mengganggu ritme konsumsi obat harian. Jemaah haji dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai penyesuaian jadwal minum obat, dengan mempertimbangkan selisih waktu zona serta jadwal keberangkatan dan kepulangan agar efektivitas terapi tetap terjaga.

    5. Pembaruan Status Vaksinasi

    Selain vaksin wajib haji, jemaah dari berbagai negara diimbau untuk memperbarui status vaksinasi menular lainnya. Berdasarkan saran dari otoritas terkait, vaksinasi yang perlu diiperhatikan mencakup Diptheria, Tetanus, Pertussis, Polio, Campak (Measles), Varicella, hingga Mumps. Patikan seluruh dokumen vaksin tertata rapi sebelum keberangkatan.

    6. Kesiapan Alat Kesehatan Khusus

    Bagi jemaah yang dalam kesehariannya bergantung pada alat bantu tertentu seperti alat bantu pernapasan, alat bantu dengar, atau implan koklear, wajib memastikan alat-alat tersebut dalam kondisi yang baik. Pastikan ketersediaan baterai cadangan dan perlengkapan pendukung lainnya tersedia dalam jumlah yang cukup untuk menghindari kendala teknis saat proses ibadah berlangsung.

    7. Manajemen Kursi Roda

    Sementara bagi jemaah yang memang membutuhkan kursi roda, sangat direkomendasikan untuk membawanya sendiri dari Tanah Air. Penting juga untuk memastikan adanya anggota keluarga atau kerabat yang siap membantu selama di sana. "Jemaah juga perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai perawatan alat, seperti cara mengatasi ban bocor. Sebagai alternatif, kursi roda juga tersedia untuk dibeli di berbagai toko farmasi di Makkah jika diperlukan secara mendadak," ujar mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.

    8. Membatasi Aktivitas Fisik yang Berlebihan

    Ibadah haji memerlukan fisik yang kuat, namun jemaah lansia dan pengidap penyakit kronis harus bijak dalam mengatur energi. Memberi prioritas pada kesehatan adalah bentuk dari menjaga kelancaran ibadah itu sendiri. Sangat dianjurkan bagi kelompok risiko tinggi untuk menggunakan kursi roda saat melakukan Tawaf dan Sai. Saat ini, jemaah juga dapat memanfaatkan modalitas transportasi elektronik yang tersedia di area Masjidil Haram.

    9.Kecepatan Respons terhadap Keluhan Kesehatan

    Terakhir kesadaran untuk segera melapor jika merasakan keluhan fisik. Gejala seperti nyeri dada sesak napas, hingga komplikasi terkait kadar gula darah tidak boleh diabaikan. "Jemaah haji lansia dan berpenyakit kronik harus selalu memberi prioritas penting bagi keadaan kesehatannya selama menjalankan ibadah haji," kata Tjandra.

    Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

    Pilihan editor: Antisipasi Jemaah Haji Saat Kasus ISPA Melonjak

    Komentar
    Additional JS