Cara 'Aneh' Tapi Manjur Atasi Insomnia - Republika
Cara 'Aneh' Tapi Manjur Atasi Insomnia
Republika/Wihdan Insomnia (ilustrasi). Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan tidur yang terjadi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti depresi, kecemasan, serangan jantung, obesitas, hingga strok.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masalah sulit tidur masih menjadi keluhan umum di kalangan orang dewasa. Psikolog klinis Wendy Troxel, mengungkapkan sekitar 30 persen orang dewasa mengalami kesulitan untuk tertidur atau tetap terlelap sepanjang malam.
Troxel menjelaskan gangguan tidur bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kurang tidur, penyakit, perubahan hormon, hingga faktor genetik. Namun, tekanan hidup sehari-hari dan stres juga kerap menjadi pemicu utama insomnia.
Sponsored
Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan tidur yang terjadi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti depresi, kecemasan, serangan jantung, obesitas, hingga strok. Sebagai solusi, Troxel menyarankan satu kebiasaan yang mungkin terdengar tidak biasa yakni menjadwalkan waktu khusus untuk khawatir.
"Jika Anda tidak menjadwalkan waktu untuk khawatir, otak Anda akan menemukan waktunya sendiri, biasanya sekitar pukul 3 pagi," kata Troxel seperti dilansir laman Today, Ahad (12/4/2026).
Menurutnya, memasukkan waktu "khawatir" ke dalam jadwal harian dapat membantu mengurangi beban pikiran sebelum waktu tidur. Hal ini penting agar saat hendak tidur seseorang tidak memikirkan hal-hal yang memicu kecemasan.
"Dengan menyediakan waktu khusus untuk memproses kekhawatiran, seseorang cenderung lebih tenang saat menjelang tidur. Kebiasaan ini juga berpotensi memperbaiki suasana hati," ujar Troxel.
Data dari National Sleep Foundation tahun 2023 menunjukkan kurang tidur selama dua malam saja dalam sepekan dapat meningkatkan risiko depresi. Selain itu, individu dengan kondisi kesehatan mental yang terganggu cenderung kurang aktif secara fisik dan minim paparan sinar matahari, yang pada akhirnya memperburuk kualitas tidur.
Untuk mulai menerapkan metode ini, Troxel menyarankan untuk menjadwalkan waktu khawatir beberapa jam sebelum tidur. Luangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit, lalu tuliskan semua pikiran yang mengganggu atau kekhawatiran yang muncul.
"Biarkan otak Anda bebas mengeluarkan semua kekhawatiran selama waktu tersebut. Tuliskan semuanya sebagai bentuk brain dump. Dengan begitu, Anda melatih otak bahwa khawatir itu boleh, tetapi bukan pada tengah malam saat Anda seharusnya tidur," kata Troxel.
Halaman 2 / 3
Bahaya kurang tidur
Konsultan kardiologi dari Manipal Hospitals, Vijayawada, memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang secara rutin tidur kurang dari tujuh hingga delapan jam yang direkomendasikan. Bahaya dari kurang tidur kronis tidak selalu muncul seketika seperti alarm yang memekakkan telinga; ia lebih mirip seperti bola salju yang perlahan membesar hingga akhirnya memicu krisis kesehatan yang serius.
Salah satu dampak yang paling mengejutkan adalah hubungannya dengan kenaikan berat badan. Bagi yang sedang berjuang menurunkan berat badan melalui diet ketat dan olahraga namun tetap begadang, usaha tersebut bisa jadi sia-sia.
Dokter Sandeep menjelaskan mekanisme internal yang kacau akibat kurang tidur. "Kurang tidur mengganggu keseimbangan hormon rasa lapar, ghrelin dan leptin; ghrelin naik, meningkatkan nafsu makan, sementara leptin turun, mengurangi rasa kenyang, yang membuat Anda mendambakan makanan berkalori tinggi, lebih sering ngemil, dan menambah berat badan dengan lebih mudah," ujarnya.
Kondisi ini memicu reaksi berantai yang berbahaya, mulai dari metabolisme yang melambat, sensitivitas insulin yang terganggu, hingga risiko nyata terkena diabetes tipe 2. Lebih jauh lagi, benteng pertahanan tubuh kita, yaitu sistem imun, akan mengambil pukulan telak saat kita kekurangan waktu istirahat.
Halaman 3 / 3
Rasa kantuk pada pagi hari mungkin hanya terasa sebagai ketidaknyamanan kecil bagi Anda, namun di tingkat seluler, tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi. Dokter Sandeep menyoroti proses vital yang terjadi saat kita terlelap dalam tidur nyenyak.
"Produksi sitokin, protein yang membantu melawan infeksi dan merangi peradangan, terjadi selama tidur nyenyak. Penekanan respons protektif semacam itu akibat kurang tidur kronislah yang menyebabkan sering pilek, pemulihan yang lebih lambat, dan peradangan yang meningkat," ujarnya. Tanpa sitokin yang cukup, mekanisme pertahanan tubuh melemah dan kerentanan terhadap penyakit kronis meningkat tajam.
Tidur yang buruk disebut sebagai pemicu utama tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan peradangan sistemik. Jika seseorang terbiasa tidur kurang dari enam jam setiap malam, ancamannya sangat mengerikan yaitu risiko serangan jantung dan strok mengintai di depan mata. Tidur bukan sekadar waktu berhenti beraktivitas, melainkan periode krusial bagi jantung untuk memulihkan diri.
Tak hanya fisik, kesehatan mental pun ikut tergerus. Kurang tidur memicu lonjakan hormon stres, terutama kortisol, yang membuat seseorang mudah cemas, lekas marah, dan sulit berkonsentrasi. Proses pengambilan keputusan pun menjadi kacau karena otak tidak mendapatkan waktu untuk melakukan "pembersihan" sisa metabolisme.
Berita Terkait
Farabi el Fouz Soroti Pentingnya Kesehatan Mental, Saring Konten Medsos untuk Generasi Muda
News Rejabar - 25 April 2026, 14:50
Lagi, Jembatan Cangar Jadi Saksi: Mengapa Laki-Laki Rentan Memendam Depresi?
Health - 24 April 2026, 20:18
Scroll Medsos Sambil Rebahan, Ini Kata Ahli Soal Tren Bed Rotting
Health - 24 April 2026, 09:17
Tips Bangkit dari Titik Terendah: Berhenti Cari Validasi Dunia, Mulai 'Daftar' ke Langit
Happening - 22 April 2026, 17:05
Istirahat Sambil Scrolling Justru Bikin Otak Makin Capek
Health - 21 April 2026, 19:29