0
News
    Home Berita Featured Jepang Spesial Sushi

    Sushi Bukan dari Jepang, Pernah Jadi Pemilik Setelah Mencuri Ide dari Negara Tetangganya - Sekitar Bandung

    6 min read

      

    Sushi Bukan dari Jepang, Pernah Jadi Pemilik Setelah Mencuri Ide dari Negara Tetangganya

    Sushi Bukan dari Jepang, Pernah Jadi Pemilik Setelah Mencuri Ide dari Negara Tetangganya

    Sekitarbandung.com – Kalau sedang ke restoran Jepang, terkadang orang akan memesan sushi karena dianggap sebagai hidangan paling autentik.

    Apalagi jika sushinya salmon, banyak yang rela membayar ratusan ribu rupiah. Padahal, awalnya sushi merupakan produk yang berbau dan terkesan jorok.

    Catatan sejarah melacak konsep awal ini berasal dari lembah Sungai Mekong, yaitu wilayah Thailand, Laos, hingga Vietnam sekarang. Namanya bukan sushi, melainkan sebuah teknik pengawetan ikan.

    Nasi Bukan untuk Dimakan

    Pada abad ke-2 hingga ke-4 Masehi, nasi bukan untuk dimakan, tetapi sebagai alat pengawet ikan agar tidak busuk di iklim tropis. Saat itu, masyarakat kuno membungkus ikan menggunakan nasi dan garam.

    Teknik tersebut membuat proses fermentasi terjadi di dalamnya. Lalu, metode ini berkelana ke China, sampai akhirnya menyeberang ke Jepang.

    Saat masuk ke Jepang pada abad ke-8, teknik fermentasi ini diberi nama Narezushi. Kata “nare” berarti matang atau fermentasi, sedangkan “zushi (sushi)” berarti nasi bercuka.

    Jadi, secara harfiah memiliki arti ikan difermentasi. Hasil fermentasi ini tidak hanya menghadirkan rasa asam, tetapi juga bau yang membuat orang berpikir dua kali, seperti keju busuk bercampur limbah.

    Tekniknya Tidak Diubah

    Di Jepang pun teknik ini tidak diubah. Ikan dibersihkan lalu ditutup dengan campuran garam dan nasi mentah, kemudian disimpan berbulan-bulan bahkan sampai setahun.

    Setelah fermentasi selesai dilakukan, nasinya akan langsung dibuang dan yang dimakan hanya ikannya saja.

    Lagi-lagi, nasi di sini hanya dijadikan alat fermentasi dan tidak bisa dimakan karena sudah berbulan-bulan. Tekstur dan rasanya pun sudah lembek serta berbau busuk.

    Baca Juga: 8 Peraturan Tidak Tertulis yang Ada di Jepang dan Telah Dilakukan oleh Masyarakat

    Teknik Sushi Semakin Berevolusi

    Memasuki Era Muromachi (1336-1573), nasi mulai ikut dimakan karena fermentasi dibuat lebih cepat. Teknik ini disebut Nama-nare.

    Sementara itu, di Era Edo (1603-1867), perubahan semakin besar ketika fermentasi tidak lagi digunakan, melainkan diganti menggunakan cuka untuk campuran nasi, sehingga lahirlah Haya-zushi alias “Sushi Cepat”.

    Bentuk sushi yang kita kenal hingga sekarang disebut Nigiri-zushi. Nasi kecil dengan irisan ikan di atasnya ini diciptakan oleh chef Hanaya Yohei pada tahun 1824.

    Sushi menjadi fast food pertama ala Jepang. Hal ini karena selain murah dan cepat, makanan tersebut juga disukai banyak orang dengan tuna sebagai rajanya topping sushi.

    Salmon Atlantik itu Aman

    Pada tahun 1980-an, orang Jepang enggan makan salmon mentah karena dianggap penuh cacing. Sampai akhirnya Norwegia yang kelebihan stok ikan melakukan invasi dagang.

    Melalui strategi marketing agresif, mereka “mencuci otak” orang Jepang bahwa Salmon Atlantik dari negara tersebut aman untuk dikonsumsi.

    Dan kini, Jepang berhasil menjadikan sushi sebagai makanan terbaik peringkat ke-5 di dunia.

    Baca Juga: 7 Mindset Unik di Jepang agar Tidak Boncos Saat Keluarkan Uang

    Post Views: 70

    Komentar
    Additional JS