Baru Beli Motor? Hindari Kesalahan Perawatan yang Bisa Bikin Mesin Cepat Rusak - Viva
Baru Beli Motor? Hindari Kesalahan Perawatan yang Bisa Bikin Mesin Cepat Rusak
Jakarta, VIVA – Memiliki motor baru tentu menjadi hal menyenangkan. Performa mesin masih halus, tarikan terasa ringan, dan tampilannya pun masih kinclong. Namun banyak pemilik kendaraan yang justru melakukan kesalahan perawatan di masa awal pemakaian tanpa disadari. Akibatnya, kondisi mesin bisa lebih cepat menurun meski usia motor masih tergolong baru.
Baca Juga
Ilustrasi motor matik
Photo :
- FDR
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Padahal, perawatan pada periode awal penggunaan sangat penting untuk menjaga umur mesin tetap panjang dan performa motor tetap optimal. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari setelah membeli motor baru.
Baca Juga
1. Jarang Ganti Oli Mesin
Kesalahan paling umum adalah menunda penggantian oli. Banyak pengguna menganggap oli bawaan pabrik bisa dipakai terlalu lama karena motor masih baru.
Baca Juga
Padahal, oli pertama justru penting diganti sesuai jadwal karena selama masa awal penggunaan akan muncul serpihan halus dari proses penyesuaian komponen mesin. Jika dibiarkan terlalu lama, pelumasan bisa menurun dan mempercepat keausan mesin.
Sebagian besar pabrikan biasanya menyarankan penggantian oli pertama di kisaran 500–1.000 kilometer.
2. Mesin Langsung Dipaksa Kerja Berat
Motor baru membutuhkan masa penyesuaian atau break-in. Pada tahap ini, komponen internal mesin masih saling menyesuaikan permukaan geseknya.
Karena itu, hindari langsung memacu motor dengan kecepatan tinggi atau membawa beban berlebihan dalam beberapa ratus kilometer pertama. Penggunaan agresif sejak awal bisa membuat komponen mesin cepat aus dan menurunkan usia pakai.
3. Memanaskan Motor Terlalu Lama
Masih banyak pengguna yang membiarkan motor menyala terlalu lama saat dipanaskan. Untuk motor injeksi modern, kebiasaan ini sebenarnya sudah tidak terlalu diperlukan.
Memanaskan motor cukup dilakukan sekitar 30 detik hingga 2 menit agar oli bersirkulasi dengan baik. Jika terlalu lama, bahan bakar justru terbuang percuma dan mesin bisa mengalami penumpukan karbon lebih cepat.
4. Sering Kehabisan Bensin
Ilustrasi SPBU Pertamina
Photo :
- VIVA/Mohammad Yudha Prasetya
Tangki bensin yang terlalu sering kosong dapat memengaruhi performa sistem bahan bakar, terutama pada motor injeksi.
Pompa bensin pada motor modern umumnya berada di dalam tangki dan membutuhkan bahan bakar untuk membantu menjaga suhu tetap stabil. Jika motor sering dipakai dalam kondisi bensin hampir habis, pompa bahan bakar berisiko lebih cepat panas dan rusak.
5. Abaikan Tekanan Angin Ban
Banyak pemilik motor baru hanya fokus pada mesin dan lupa memeriksa tekanan ban. Padahal tekanan ban yang tidak sesuai dapat memengaruhi kenyamanan, konsumsi bahan bakar, hingga keselamatan berkendara.
Ban kurang angin membuat motor terasa berat dan boros BBM, sementara tekanan berlebih bisa mengurangi daya cengkeram ban di jalan.
6. Asal Modifikasi Motor Baru
Tidak sedikit pemilik motor yang langsung mengganti knalpot, lampu, hingga sistem kelistrikan tak lama setelah motor dibeli.
Jika modifikasi dilakukan sembarangan, risiko kerusakan justru bisa muncul lebih cepat. Kelistrikan yang tidak sesuai standar dapat mengganggu aki dan ECU, sementara penggunaan komponen aftermarket berkualitas rendah bisa memengaruhi performa mesin.
7. Melewatkan Servis Berkala
Servis berkala di bengkel resmi sering dianggap tidak penting selama motor masih terasa normal. Padahal, pemeriksaan rutin bertujuan mendeteksi masalah kecil sebelum berkembang menjadi kerusakan besar.
Dalam servis berkala, teknisi biasanya memeriksa kondisi oli, filter udara, rem, rantai, aki, hingga sistem injeksi agar motor tetap dalam kondisi optimal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ilustrasi motor berhenti di lampu merah
Photo :
- Unsplash
Motor baru bukan berarti bebas masalah jika tidak dirawat dengan benar. Kebiasaan kecil seperti rutin ganti oli, menjaga gaya berkendara, dan melakukan servis berkala bisa membuat mesin lebih awet dalam jangka panjang.
![]()
Pasca Blackout Sumatera, Komisi XII DPR Dorong Ketahanan Sistem Kelistrikan Nasional
Shanty menilai, tingkat keandalan tinggi harus dimiliki sistem kelistrikan nasional, sebagai infrastruktur vital yang menopang aktivitas masyarakat maupun sektor ekonomi.

VIVA.co.id
24 Mei 2026