Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Heatstroke Kesehatan Lifestyle Spesial Tips & Tricks

    Jangan Panik! Ini Langkah Pertama Menolong Pelari yang Alami Heatstroke - Okezone

    6 min read

     


    Heatstroke saat lari. (Foto: Freepik)

    RISIKO heatstroke atau sengatan panas perlu diwaspadai oleh para pelari, terutama saat mengikuti perlombaan jarak jauh. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu akibat produksi panas yang berlebihan dan kemampuan pendinginan yang tidak memadai.

    Jika seorang pelari dicurigai mengalami heatstroke, penanganan harus dilakukan dengan cepat. Salah satu prinsip yang dikenal dalam penanganan kondisi ini adalah cooling first, transport later, yakni mengutamakan pendinginan tubuh secepat mungkin sambil segera mengaktifkan bantuan medis.

    dr. Muhammad Habibi Nst Sp.An-TI, Anestesiologi dan Terapi Intensif, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan penanganan heatstroke perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan ketersediaan fasilitas medis di lokasi. Kesiapan tim medis dalam sebuah event lari jadi faktor penting memastikan pelari yang alami kondisi darurat segera dapat pertolongan.

    1. Pendinginan Tubuh Harus Segera Dilakukan

    Menurut dr. Habibi, langkah utama dalam menangani heatstroke adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin. Salah satu metode yang efektif adalah merendam tubuh dalam air dingin agar proses pelepasan panas berlangsung lebih cepat.

    Metode ini dapat dilakukan di fasilitas medis yang memadai dengan pengawasan petugas terlatih. Dalam penyelenggaraan event lari, misalnya, tim medis dapat menyiapkan sarana pendinginan berupa wadah atau terpal khusus yang diisi air dan es.

    Pelari yang menunjukkan gejala mencurigakan, seperti berjalan sempoyongan, kehilangan keseimbangan, atau mengalami penurunan kemampuan berlari yang tidak biasa, perlu segera diperiksa.

    Jika dicurigai mengalami heatstroke, petugas medis perlu melakukan penilaian kondisi pasien dan memulai pendinginan tanpa menunda-nunda. Pemeriksaan suhu tubuh dapat membantu penilaian, tetapi tindakan pendinginan tidak seharusnya ditunda ketika kecurigaan klinis sudah tinggi.

    “Untuk penanganan pertama, ada prinsip yang dikenal dengan istilah cooling first, transport later, yaitu mengutamakan pendinginan tubuh terlebih dahulu sebelum proses pemindahan pasien, sembari memastikan pertolongan medis segera dipanggil,” ujar dr. Habibi.

    “Prinsip utamanya adalah melakukan pendinginan tubuh secepat mungkin ketika seseorang dicurigai mengalami heatstroke,” lanjutnya.

    “Salah satu metode pendinginan yang efektif adalah merendam tubuh dalam air dingin. Pendinginan perlu dilakukan pada sebagian besar permukaan tubuh agar panas dapat dilepaskan dengan cepat,” jelas dr. Habibi.

    “Dalam penanganan di tenda medis, misalnya, petugas dapat menggunakan terpal yang diisi air dan es sebagai sarana pendinginan. Ketika pelari menunjukkan tanda-tanda seperti berjalan sempoyongan, kehilangan keseimbangan, atau mengalami penurunan kecepatan yang tidak biasa disertai keluhan fisik, petugas perlu segera melakukan pemeriksaan,” sambungnya.

    “Jika dicurigai mengalami gangguan akibat panas, suhu tubuh perlu diperiksa dan pendinginan segera dilakukan sesuai kondisi pasien serta protokol medis yang berlaku,” tuturnya.

    Meski demikian, pemanggilan bantuan medis harus dilakukan segera dan berjalan bersamaan dengan upaya pendinginan. Prinsip tersebut bukan berarti pasien harus menunggu hingga suhu tubuh normal sebelum dibawa mendapatkan penanganan lanjutan.

    2. Bagaimana jika Heatstroke Terjadi saat Berlari Sendirian?

    Risiko menjadi lebih besar ketika seseorang mengalami gejala heatstroke saat berlari sendirian atau berada jauh dari pos medis. Dalam situasi tersebut, orang yang berada di sekitar korban perlu membantu melakukan pendinginan sembari meminta pertolongan medis.

    Langkah awal yang dapat dilakukan antara lain memindahkan korban ke tempat yang lebih teduh, melepas pakaian luar yang berlebihan, serta membasahi tubuh dengan air dingin.

    Jika tersedia, pendinginan dapat dibantu menggunakan kain atau handuk yang dibasahi air dingin. Kompres dingin pada area leher, ketiak, dan selangkangan juga dapat menjadi langkah tambahan, meskipun tidak seefektif pendinginan seluruh tubuh menggunakan air dingin.

    Apabila fasilitas dan tenaga terlatih tersedia, perendaman tubuh dalam air dingin dapat menjadi pilihan yang sangat efektif. Namun, tindakan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi kesadaran dan jalan napas pasien.

    Jika korban mengalami kebingungan berat, penurunan kesadaran, atau kejang, segera hubungi layanan darurat medis. Jangan memberikan minuman kepada korban yang mengalami gangguan kesadaran karena berisiko tersedak.

    “Namun, bagaimana jika kita sedang berlari sendirian atau menemukan seseorang yang mengalami kondisi tersebut tanpa adanya tim medis di sekitar? Pertolongan awal tetap bisa dilakukan dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Misalnya, membawa orang tersebut ke tempat teduh, menyiram tubuhnya dengan air dingin, serta menggunakan kain basah atau es yang dibungkus kain untuk membantu proses pendinginan,” ucap dr. Habibi.

    “Area seperti leher, ketiak, dan selangkangan dapat menjadi lokasi tambahan untuk memberikan kompres dingin. Namun, langkah tersebut bukan pengganti pendinginan seluruh tubuh yang efektif apabila terjadi heatstroke,” lanjutnya.

    “Jika seseorang mengalami kebingungan, penurunan kesadaran, atau kejang setelah berolahraga, segera hubungi layanan darurat medis. Jangan menunda pertolongan hanya untuk mencoba menurunkan suhu tubuh sendiri,” kata dr. Habibi.

    3. Mengenal Metode Cold-Water Immersion dan Ice-Water Immersion

    5 Makanan untuk Mencegah Heatstroke, Pastikan untuk Mengonsumsinya

    Dalam penanganan heatstroke akibat aktivitas olahraga, terdapat metode pendinginan yang dikenal sebagai cold-water immersion dan ice-water immersion. Keduanya menggunakan perendaman tubuh dalam air dingin untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

    Perbedaan utamanya terletak pada suhu air yang digunakan dan protokol penerapannya. Cold-water immersion menggunakan air dingin, sedangkan ice-water immersion menggunakan air yang sangat dingin dengan tambahan es. Suhu air harus disesuaikan dengan protokol medis yang digunakan serta kondisi pasien.

    Metode perendaman dinilai efektif karena memungkinkan sebagian besar permukaan tubuh bersentuhan langsung dengan air dingin. Dengan demikian, panas dapat dilepaskan lebih cepat dibandingkan jika pendinginan hanya dilakukan melalui kompres pada beberapa bagian tubuh.

    Namun, pelaksanaan metode ini tetap memerlukan perhatian terhadap kondisi pasien, terutama untuk menjaga jalan napas dan memastikan proses pendinginan berlangsung dengan aman.

    “Dalam praktik medis, terdapat beberapa metode perendaman air untuk membantu menurunkan suhu tubuh, termasuk cold-water immersion dan ice-water immersion. Perbedaannya terutama terletak pada suhu air yang digunakan. Ice-water immersion menggunakan air yang sangat dingin, sedangkan cold-water immersion menggunakan air dingin dengan rentang suhu yang disesuaikan dengan protokol penanganan,” ucapnya.

    “Pada penanganan heatstroke akibat aktivitas olahraga, perendaman tubuh dalam air dingin merupakan salah satu metode pendinginan yang sangat efektif jika dilakukan dengan benar dan dipantau oleh petugas terlatih,” lanjutnya.

    “Hal yang paling penting adalah pendinginan dilakukan sesegera mungkin. Penanganan tidak boleh ditunda, karena heatstroke merupakan kondisi darurat medis yang dapat mengancam jiwa,” tutup sang dokter.

    (Djanti Virantika)

    Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

    Komentar
    Additional JS