Lezatnya Satai Kambing Australia, Salah Satu Kuliner Favorit di Klaten - detik
Lezatnya Satai Kambing Australia, Salah Satu Kuliner Favorit di Klaten

Klaten, Beritasatu.com - Selain dikenal dengan daging kambing australianya yang empuk, satai kambing Gondang di Klaten, Jawa Tengah ini menawarkan sensansi suasana rumah makan yang berbeda, yaitu tempatnya bekasi pabrik gula peninggalan zaman dahulu.
Lokasinya ada di Jalan Raya Jogja-Solo, buka mulai pukul 08.30 WIB hingga 20.00 WIB. Sampai saat ini kudapan satu ini banyak diburu pengemar kuliner dari berbagai daerah, antara lain Klaten, Yogyakarta serta dari wilayah Solo Raya.
Harga per porsinya yang berisi dua tusuk dibanderol Rp 35.000 sudah termasuk satai, nasi dan minum. Soal rasanya lezat karena dibumbui dengan rempah-rempah pilihan. Sate ini didominasi dengan rasa pedas.
Menurut pengelola rumah makan, Marsono, alasan ia memilih daging kambing asal Australia karena lebih tebal dan empuk. Kemudian, jenis daging ini juga memengaruhi rasa dan soal rasa tentunya berbeda.
“Dagingnya lebih empuk, tebal dan rasanya lebih enak, soal rasa tentu berbeda. Jadi kalau daging dari sana itu rasanya tidak berubah-ubah,” kata dia kepada Beritasatu.com, Rabu (17/01/2024).
Marsono mengatakan, yang membedakan daging kambing lokalan dengan Australia. Ia menyebutkan, sebenarnya daging yang didatangkan dari Australia ini adalah domba. Namun, pada umumnya di Kabupaten Klaten ini orang menyebutnya adalah satai kambing. Sehingga namanya pun tetap satai kambing.

Marsono mengatakan, yang membedakan daging kambing lokalan dengan Australia. Ia menyebutkan, sebenarnya daging yang didatangkan dari Australia ini adalah domba. Namun, pada umumnya di Kabupaten Klaten ini orang menyembutnya adalah satai kambing.
"Kalau satai pada umumnya langsung dipotong-potong sebelum dibakar, tetapi kalau yang ini sudah dipotong-potong terlebih dahulu kemudian dimasukkan dalam freezer," ujar dia.
Para pemburu kuliner sate pun banyak yang penasaran dengan makanan satu ini, salah satunya adalah warga asal Yogyakarta, Nanang. Ia mengatakan, bentuk satainya berbeda dengan yang lainnya.